BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kota Batu sudah
terkenal sejak abad ke IX akhir Masehi, sebagai Kota Wisata karena keindahan
pemandangan alamnya. Kota Batu merupakan salah satu daerah yang dikelilingi
oleh pengunungan yang ada di wilayah Jawa Timur, yang secara geografis
merupakan daerah tropis. Udara segar nan sejuk dan dikelilingi bukit-bukit
indah menjadi daya tarik tersendiri jika di banding kota-kota lain di
Indonesia.
Namun
sayangnya, Kota Batu kini tidak sesejuk dahulu. Hutan-hutan banyak yang digunduli
demi kepentingan segelintir orang. Seperti di desa Toyomerto,
Kota Batu, mereka menebang pohon untuk mencukupi kebutuhan mereka. Alasan
ekonomi sering dijadikan alasan para penjarah kayu tersebut dalam melakukan
aksinya. Hampir semua lahan hijau di Kota Batu berubah menjadi beton. Pemerintah
seperti hanya memikirkan fisik, tanpa memikirkan kondisi lingkungan.
Berawal
dari keprihatinannya melihat hutan di Kota Batu yang semakin hari semakin
menggundul, serta kecemasan melihat masyarakat yang kerap menebangi pohon di
hutan untuk dijual dan dijadikan kayu bakar, Gus Udin, seorang tokoh masyarakat
Kota Batu, tak keberatan tanahnya seluas 5.000 meter persegi di Gunung Bale,
Desa Songgokerto, digunakan untuk mengatasi penggundulan hutan.
Melalui
komunitasnya yang bernama Komunitas Merah Putih, lahannya di Baleagung
Nusantara Emas telah disulap menjadi kawasan "Pohon Kebijaksanaan".
Dari upayanya ini, sudah tampak hasilnya yakni penebangan pohon menurun
drastis, bahkan boleh dibilang sudah tidak ada lagi. Selain itu, warga setempat
berbondong-bondong menyatukan komitmen dengan Gus Udin.
1.2 Rumusan Masalah
Di dalam suatu penelitian akan muncul suatu pokok permasalahan yang menjadi
arah dalam penelitian. Dalam penelitian ini, permasalahan dirumuskan sebagai
berikut :
1.2.1 Bagaimana
cara Gus Udin menyelamatan lingkungan Kota Batu?
1.2.2 Apa peranan
Gus Udin terhadap lingkungan Kota Batu?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan rumusan masalah sebagaimana
dikemukakan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah :
1.3.1 Untuk
mengetahui bagaimana cara Gus Udin menyelamatan lingkungan Kota Batu.
1.3.2 Untuk mengetahui peranan Gus Udin bagi
lingkungan Kota Batu.
1.4 Manfaat Penelitian
Mengingat tujuan
penelitian di atas, maka manfaat di dalam penelitian ini adalah:
1.4.1
Sebagai bahan referensi bagi kalangan akademis.
1.4.2
Untuk memperkaya khasanah studi ilmiah.
1.4.3
Sebagai informasi kepada masyarakat, khususnya
masyarakat tentang pentingnya lingkungan.
1.4.4
Sebagai bahan masukan bagi pemerintah untuk
merealisasikan program penghijauan.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
2.1 Kajian Mengenai Kota Batu
Kota Batu adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur. Kota ini terletak 15 km sebelah barat Kota Malang,
berada di jalur Malang-Kediri dan Malang-Jombang. Kota
Batu berbatasan langsung dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan di sebelah utara, serta dengan Kabupaten Malang
di sebelah timur, selatan, dan barat (www.wikipedia.com).
Pembagian wilayah kota Batu terdiri dari 3 kecamatan dan 23
desa/ kelurahan. Ketiga kecamatan itu adalah : Kecamatan Batu dengan luas
46,377 km², Kecamatan Bumiaji dengan wilayah yang paling luas, yaitu sekitar
130,189 km², dan Kecamatan Junrejo dengan luas 26,234 km².
Keadaan topografi Kota Batu memiliki dua karasteristik yang
berbeda. Karakteristik pertama yaitu bagian sebelah utara dan barat yang
merupakan daerah ketinggian yang bergelombang dan berbukit. Sedangkan karakteristik
kedua, yaitu daerah timur dan selatan merupakan daerah yang relatif datar
meskipun berada pada ketinggian 800-3000 m dari permukaan laut.
Sebagai layaknya wilayah pegunungan yang wilayahnya
subur, Batu dan sekitarnya juga memiliki panorama alam yang indah dan berudara
sejuk, tentunya hal ini akan menarik minat masyarakat lain untuk mengunjungi
dan menikmati Batu sebagai kawasan pegunungan yang mempunyai daya tarik
tersendiri.
2.2 Kajian Mengenai Gus Udin
Nama Syaifuddin
Zuhri, yang akrab dipanggil Gus Udin, amat lekat dengan kepedulian terhadap
keselamatan lingkungan. Tokoh masyarakat di Dusun Toyomerto, Desa Pesanggrahan,
Kecamatan Batu, Kota Batu, itu tak keberatan tanahnya seluas 5.000 meter
persegi di Gunung Bale, Desa Songgokerto, digunakan untuk mengatasi
penggundulan hutan.
Berawal dari keprihatinannya melihat
hutan di Kota Wisata berhawa sejuk, Batu yang semakin hari semakin menggundul,
serta kecemasan melihat masyarakat yang kerap menebangi pohon di hutan untuk
dijadikan kayu bakar, pria kelahiran 4 April 1967 itu sengaja menjual tanah
miliknya di Gunung Bale untuk menghimpun dana, guna merawat pohon serta
kegiatan sosial dengan melibatkan elemen masyarakat setempat.
Baginya, melihat
kawasan hutan kembali menghijau adalah cita-citanya sejak kecil, hal ini supaya
bangsa ini bisa selamat dan kembali mempunyai potensi hutan yang lebat. Aktivitasnya
sehari-hari yang sangat dekat dengan alam, adalah bagian dari keinginanya sejak
berusia 23 tahun lalu. Menurut Gus Udin, pendekatannya dengan alam adalah
bagian dari pendekatannya kepada Sang Pencipta. Baginya, hutan harus kembali ijo royo-royo agar negeri ini bisa
selamat dan kembali tegak sebagai negara. Dia prihatin karena luas hutan
semakin menyempit akibat penggundulan dan pembalakan liar.
Syaifuddin Zuhri atau
Gus Udin mulai belajar mengenal lingkungan tanpa pamrih. Tidak pernah terpikir
oleh pria paruh baya ini, untuk mendapatkan penghargaan lingkungan dari
pemerintah, seperti pernah diajukkan oleh sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) di Kota Batu. Apa yang dilakukannya hanyalah berasal dari keyakinannya,
bahwa agama menganjurkan agar umat menyelamatkan alam dengan cara merawatnya.
Oleh karena itu, saat akan mendapatkan penghargaan ia menolaknya, sebab apa
yang dilakukan adalah sebuah panggilan hati.
Gus
Udin juga menggagas berdirinya Komunitas Merah Putih, suatu perkumpulan
orang-orang yang sadar akan lingkungan. Selain Komunitas Merah Putih, Gus Udin
mendirikan Komunitas Hamba Allah Bale Agung Kawitan di Desa Pandesari,
Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, yang membina 25 anak yatim-piatu. Mereka
diajari mencintai lingkungan dan manusia, serta dilatih agar mandiri setelah
besar. Dana untuk membina anak-anak didapat dengan patungan atau swadaya
masyarakat.
2.3 Kajian Mengenai Komunitas Merah Putih
Komunitas Merah Putih berakar dari masyarakat yang bermukim
di sekitar Gunung Panderman, mengusung misi menyelamatkan lingkungan melalui
kegiatan penghijauan dan krisis energi.
Gus Udin, pria berusia 44 tahun itu memang tidak melakukan
sendirian untuk merealisasikan penghijauan yang dikemas dalam “pohon
kebijakan”. Melalui lembaga Komunitas Merah Putih yang didirikannya pada 9
September 1999 lalu itu, Gus Udin bakal
menghijaukan lereng Gunung Panderman itu dengan puluhan ribu pohon beringin dan
belibis. Saat ini, pohon yang tertanam itu memang belum banyak karena Komunitas
Merah Putih merencanakan menanam 20 ribu pohon beringin.
Kerja keras Gus Udin dengan Komunitas Merah Putih menuai
sukses. Warga di sembilan desa ikut menanam beringin. Setelah program
penghijauan dan pengadaan sapi berjalan, masyarakat pun diajak membangun masjid
yang difungsikan sebagai tempat ibadah, pusat diskusi, dan musyawarah. Masjid
yang terletak di Desa Bunder, Pujon, ini diberi nama Masjid Merah Putih. Masjid
dibangun dengan swadaya masyarakat di atas tanah yang dihibahkan Sholeh Hadi,
warga setempat. Untuk bahan fondasi, warga bergotong-royong memecah batu di
sungai yang berjarak sekitar 500 meter.
Dedikasi Komunitas
Merah Putih berbuah beberapa penghargaan. Dua di antaranya penghargaan Zamrud
Khatulistiwa dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dan penghargaan Pusaka
Penunggu Mata Air Gunung Semeru dari Padepokan Sawung Nalar.
2.4 Kajian Mengenai Hutan
Hutan adalah suatu wilayah yang memiliki banyak
tumbuh-tumbuhan lebat yang berisi antara lain pohon, semak, paku-pakuan,
rumput, jamur dan lain sebagainya serta menempati daerah yang cukup luas.
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang meiliki kawasan hutan yang
sangat luas. Hutan memiliki banyak manfaat bagi kita semua. Hutan merupakan
paru-paru dunia, sehingga perlu kita jaga karena jika tidak maka hanya akan
membawa dampak yang buruk bagi kita di masa kini dan masa yang akan datang.
Hutan merupakan penyangga kehidupan, sehingga harus
dimanfaatkan dengan bijak. Hutan mampu memproduksi oksigen yang kita hirup.
Fungsi lain dari hutan adalah menyerap gas karbon dioksida sebagai salah satu
gas penyebab global warming. Secara alami, lapisan humus tanah hutan mampu
menangkap dan menyimpan air hujan sehingga banjir dapat dicehag di musim hujan.
Sebaliknya hutan akan menjaga ketersediaan air saat musim kemarau sehingga
tidak terjadi kekeringan. Akan tetapi pandangan para konglomerasi lokal dan
internasional tentang hutan sangat berbeda. Bagi mereka fungsi hutan hanya
untuk menghasilkan kayu.
2.5 Kajian
Mengenai Penebangan Hutan
Saat ini, hanya kurang dari separuh Indonesia yang memiliki
hutan, merepresentasikan penurunan signifikan dari luasnya hutan pada awalnya.
Antara tahun 1990 sampai 2005, negara Indonesia telah kehilangan lebih dari 28
juta hektar hutan. Jumlah hutan-hutan di Indonesia sekarang ini makin turun dan
banyak dihancurkan akibat penebangan hutan, penambangan, perkebunan agrikultur
dalam skala besar, kolonisasi, dan aktivitas lain yang substansial, seperti
memindahkan pertanian dan menebang kayu untuk bahan bakar.
Efek dari berkurangnya hutan ini pun meluas, tampak pada
aliran sungai yang tidak biasa, erosi tanah, dan berkurangnya hasil dari
produk-produk hutan, dan masih banyak lagi. Penebangan hutan di Indonesia telah
memperkenalkan beberapa daerah yang paling terpencil, dan terlarang, di dunia
pada pembangunan.
Beberapa pendekatan neo-humanisme dalam
mencegah dan mengurangi terjadinya penebangan hutan adalah sebagai berikut:
- Penduduk lokal biasanya bergantung pada penebangan hutan di hutan hujan untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Pada masa lalu, praktek-praktek semacam itu biasanya tidak terlalu merusak ekosistem. Bagaimanapun, saat ini wilayah dengan populasi manusia yang besar, curamnya peningkatan jumlah orang yang menebangi pohon di suatu wilayah hutan hujan bisa jadi sangat merusak. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan dan penyuluhan kepada penduduk setempat tentang betapa pentingnya keberadaan hutan bagi kehidupan semua umat.
- Dalam hal penebangan hutan secara konservatif, dengan cara menebang pohon yang sudah tidak berproduktif lagi. Jangan sampai pohon yang masih muda dan masih berproduktif ditebang. Selanjutnya, setiap menebang satu pohon, harus seerag menagganti denagn menamam pohon kembali sebanyak satu pohon.
- Melakukan pembenahan terhadap sistem hukum yang mengatur tentang pengelolaan hutan menuju sistem hukum yang responsif yang didasari prinsip-prinsip keterpaduan, pengakuan hak-hak asasi manusia, serta keseimbangan ekologis, ekonomis, dan pendekatan neo-humanisme.
- Perlu adanya suatu program peningkatan peranan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian hutan. Melalui pendekatan neo-humanisme ini, juga perlu dibentuk suatu kelompok peduli hutan dalam masyarakat yang bertugas memantau keadaan hutan di sekitarnya dan melakukan pelestarian hutan, kemudian menularkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari berbagai pelatihan manajerial kehutanan kepada masyrakat di sekitarnya, sehingga nantinya akan ada rasa saling memiliki dengan adanya keberadaan hutan tersebut.
- Melakukan program reboisasi secara rutin dan pemantauan tiap bulannya dengan dikoordinir oleh tokoh-tokoh masyarkat setempat.
- Perlu adanya inovasi pelatihan keterampilan kerja di masyarakat secara gratis dan rutin dari pihak-pihak yang terkait, seperti Dinas Tenaga Kerja,dll, sehinnga masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil hutan saja, tetapi dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan dimilkinya.
BAB
III
METODE
PENULISAN
3.1 Metode Penulisan
Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode penelitian deskriptif.
Menurut Nawawi (1993: 63) metode deskriptif merupakan usaha untuk memecahkan
masalah dengan membandingkan persamaan dan perbedaan gejala yang ditemukan,
mengukur dimensi, suatu gejala, mengadakan klasifikasi gejala, menilai gejala,
menetapkan standar, menetapkan hubungan antar gejala-gejala yang ditemukan.
Adapun tujuan dari penulisan deskriptif adalah untuk membuat gambaran atau
deskripsi mengenai objek yang dikaji.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji informasi mengenai Gus Udin sebagai
sebagai tokoh penyelamat lingkungan Kota Batu.
3.2 Fokus Penulisan
Penulisan ini difokuskan pada:
3.3.1 Cara Gus Udin menyelamatkan lingkungan Kota Batu.
3.3.2 Peranan Gus Udin terhadap lingkungan Kota Batu.
3.3 Instrumen Penulisan
Instrumen
utama pada penelitian ini yaitu berupa penelitian sendiri. Dalam mengumpulkan
data, peneliti menggunakan catatan lapangan untuk mendukung informasi mengenai cara
Gus Udin menyelamatkan lingkungan Kota Batu.
3.4 Metode
Pengumpulan Data
Metode
pengumpulan data yang digunakan untuk mengkaji masalah yang dibahas dalam
penulisan ini adalah sebagai berikut:
3.5.1 Penelitian kepustakaan (Library Search)
Penulis menggunakan metode ini untuk mendasari
kerangka berpikir, yaitu dengan cara menelusuri literatur yang ada dari
berbagai sumber, yakni situs internet. Kemudian literatur yang telah diperoleh
tersebut dikaji atau ditelaah.
3.5.2 Wawancara
Penulis juga mengumpulkan data dengan mewawancarai
Gus Udin, tokoh masyarakat Kota Batu. Melalui wawancara, diharapkan dapat
tercapai tujuan yang diharapkan dalam penulisan karya tulis ini.
3.5 Metode Analisis Data
Penulisan karya tulis
ini diawali dengan mengumpulkan data-data yang relevan dengan permasalahan yang
dikaji. Metode analisis data yang digunakan, disesuaikan dengan rumusan masalah
secara sistematis sehingga memiliki informasi yang bisa serta mudah untuk
ditelaah.
Dalam penulisan ini,
penulis akan membahas tentang masalah-masalah atau fokus penulisan mengenai Gus
Udin sebagai tokoh dalam menyelamatkan lingkungan Kota Batu
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Cara Gus Udin Menyelamatkan Lingkungan
Kota Batu
Latar belakang Gus Udin
ingin menyelamatkan lingkunagan bermula dari kecemasan melihat masyarakat yang
kerap menebangi pohon di hutan di kawasan Kota Batu untuk mendapatkan kayu
bakar sebagai pengganti pengganti bahan bakar minyak tanah yang susah didapat.
Sedangkan gas elpiji masih gampang-gampang susah diperoleh.
Dia terus diliputi
kekhawatiran. Jika hutan terus digunduli, bencana mengintai. Mata air banyak
yang hilang. Masyarakat di sekitar Gunung Panderman, misalnya, ditimpa bencana
tanah longsor setiap musim hujan, tapi seperti tak pernah kapok. Gus Udin tak
henti menyadarkan masyarakat hingga penebangan pohon menurun drastis dan bahkan
boleh dibilang sudah tidak ada lagi.
Tak banyak aktivis
lingkungan yang merelakan lahan pribadinya untuk penghijauan. Melalui Komunitas
Merah Putih, lahannya di Baleagung Nusantara Emas bakal disulap menjadi kawasan
“pohon kebijakan”. Sebanyak 20 ribu bibit pohon beringin akan ditanam di
kawasan tersebut.
Gus Udin sengaja
menjual tanah miliknya di Gunung Bale untuk menghimpun dana untuk merawat pohon
serta kegiatan sosial lainnya. Gus Udin melakukan penghijauan di lereng gunung
Panderman tidak dilakukan sendirian. Gus Udin melakukannya, bersama sejumlah
rekannya dalam komunitas yang didirikannya pada 9 September 1999. Dari
rutinitasnya menanam, tercatat sebanyak 2.351 bibit pohon beringin dan belibis
yang sudah tertanam di lahan seluas 5.500 m².
Pemilihannya untuk
menunjuk pohon beringin sebagai pohon utama, bukannya tanpa alasan. Sebab,
berdasarkan tinjauan sejarah, sejumlah raja terdahulu yang menanam pohon
beringin bisa memunculkan sumber mata air baru. Selain itu, menurutnya beringin
adalah pohon yang diperlukan di Kota Batu untuk menjaga pelestarian alam. Sebagaimana
yang dikemukakannya sebagai berikut:
“Beringin adalah pohon yang kuat tahan
lama. Akarnya panjang, besar, menjalar ke mana-mana, sehingga bisa melindungi
mata air yang ada di dalam tanah. Akar tunggangnya mampu menembus hingga area artesis, sehingga sumber mata air akan
kembali muncul. Selain itu, pohon beringin itu jarang ditebang karena kayunya
tidak laku dijual. Pohon beringin juga tidak dimakan oleh hewan-hewan yang ada
di hutan. Jadi intinya, beringin bermanfaat dalam jangka panjang (wawancara
pada hari Minggu, 14 Maret 2010 di rumah Gus Udin).’’
Bersama Komunitas Merah
Putih yang dibentuknya pada tanggal 9 September 1999 lalu, Gus Udin berupaya
merealisasikan programnya. Program penghijauan yang dicanangkan Gus Udin
dikaitkan dengan program ketahanan pangan dan kemandirian energi. Metodenya
sederhana. Setiap pembeli atau donatur harus lebih dulu mempunyai niat beramal dengan
menyisihkan rezeki Rp 250.000,- dengan imbalan sebidang tanah 1 meter persegi
untuk menanam pohon. Donatur dibebaskan memilih pohon yang ia sukai, tetapi
pohon utama yang disediakan adalah pohon beringin.
Nantinya, setiap
donatur wajib menandatangani kontrak lingkungan yang disebut perjanjian
"pohon kebijakan". Isinya, pohon tidak boleh ditebang, dan donatur
harus berkomitmen pada masalah lingkungan, tidak boleh merusak hutan, dan
menghibahkan tanah yang dibeli untuk konservasi hutan. Donatur pun akan
mendapat sertifikat kepemilikan yang mencantumkan pohon yang ditanam atas nama
diri sendiri. Selain itu, pihak donatur akan mendapatkan laporan tahunan
mengenai perkembangan pohon yang ditanam.
Lahan pribadi yang dijadikan lahan penghijauan itu tidak
hanya ditanami anggota Komunitas Merah Putih. Tapi, juga terbuka untuk umum.
Saat ini sudah tercatat 400 penanam pohon beringin di kawasan tersebut. Para
penanam pohon dengan latar belakang yang berbeda. Mulai dari aktivis
lingkungan, kalangan pengusaha, masyarakat kecil, pelajar, anak yatim, pejabat
tinggi negara, hingga tokoh partai politik.
4.2 Peranan Gus Udin bagi Lingkungan Kota
Batu
Seperti diketahui,
kondisi gunung-gunung makin tahun makin menyedihkan, mulai akibat penebangan
liar maupun pertumbuhan perumahan dan bangunan tinggal yang makin bergerak ke
atas, mencari lokasi yang sejuk dan view yang menawan. Belum lagi
aktivitas-aktivitas lain di zaman modern ini yang mengakibatkan kerusakan lingkungan
makin parah.
Pembangunan Kota Batu
sebagai kota wisata kini semakin gencar. Tujuannya adalah untuk mengenalkan
Batu sebagai kota sejuta pesona kepada masyarakat lokal maupun nasional. Namun
sayangnya, pembangunuan tersebut justru berdampak negatif terhadap lingkungan
Kota Batu sendiri. Sebagai bukti nyata, udara Kota Batu yang terkenal dingin
dan sejuk tidak sedingin dahulu. Lahan hijau yang ada banyak yang digunakan
sebagai lahan perumahan maupun bangunan yang lain.Bencana alam seperti tanah
longsor dan banjir pun sering teradi di Kota Batu. Semua itu tidak terlepas
dari kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri.
Melalui komunitasnya,
lahan Gus Udin di Baleagung Nusantara Emas saat ini telah disulap menjadi
kawasan "Pohon Kebijaksanaan". Dari upayanya ini, sudah tampak
hasilnya yakni penebangan pohon menurun drastis, bahkan boleh dibilang sudah
tidak ada lagi. Selain itu, warga setempat berbondong-bondong menyatukan
komitmen dengan Gus Udin, yakni :
“Siapa yang menabur benih kebaikan, akan
mendapatkan 7 tangkai pahala, dan masing-masingkai tangkai mengeluarkan buah
yang berpahala sampai kepada anak cucu kita. Dan siapa yang mencuri, akan
merugi samapai anak cucu kita.”
Saat ini, sekitar 7-8
ribu beringin yang sudah ditanam di lahan pribadi yang disumbangkan untuk
keseimbangan lingkungan alam ini. Hingga saat ini, puluhan warga dari berbagai
daerah di Jawa Timur, bahakan daerah lain seperti Jakarta, Semarang, dan Medan sudah mempunyai hutan dengan cara menghibahkan
sebagian rezekinya lewat penanaman pohon di Gunung Bale. Setelah dihijaukan,
beberapa mata air kembali mengalirkan air, seperti di Desa Oro-Oro Ombo,
Pesanggrahan, Sidomulyo, Sisir, dan Songgokerto.
Gus Udin juga menjadi
pelopor masyarakat Kota Batu untuk ‘menabung’ alam bagi anak-cucu kita di masa
yang akan datang. Sehingga diharapkan ketersediaan air dapat tercukupi, seperti
apa yang dikatkannya :
“Sekarang mungkin belum bisa dilihat
hasilnya, tapi 5-10 tahun ke depan insyaallah
bermanfaat. Namun masyarakat sekarang sudah lebih sadar akan lingkungan.
Mereka tidak lagi menembaki burung yang ada di hutan. Penebangan hutan oleh
warga pun sudah lebih banyak berkurang. Mereka mulai sadar akan nasib anak cucu
mereka nanti. Bahkan banyak dari mereka yang ingin ikut bergabung dalam
Komunitas Merah Putih(wawancara pada hari Minggu, 14 Maret 2010 di rumah Gus
Udin).’’
Jadi, dapat dikatakan
bahwa peran Gus Udin terhadap lingkungan Kota Batu adalah sebagai penyelamat
lingkungan di masa kini dan di masa yang akan datang.
BAB
V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
permasalahan dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
5.1.1 Gus Udin melakukan penyelamatan lingkungan
dengan mewakafkan tanahnya di kawasaan Baleagung untuk dijadikan lahan
penghijauan. Penghijauan yang dilakukan Gus Udin dilakukan dengan cara menanam
bibit pohon beringin di beberapa pegunungan di wilayah Kota Batu dan Malang
Raya.
5.1.2 Melalaui Komunitas Merah Putih, Gus Udin
melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk lebih peduli dengan alam sekaligus
mengajak masyarakat untuk turut aktif dalam upaya penghijauan lingkungan.
5.1.3 Peran Gus Udin kepada lingkungan Kota Batu
adalah sebagai penyadar serta aktivis lingkungan, sehingga banyak masyarakat
yang menjadi lebih sadar akan pentingnya lingkungan.
5.1.4 Program penghijauan Gus Udin berhasil mengurangi
kerusakan lingkungan di sebagian wilayah Kota Batu.
5.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dan simpulan, dapat diberikan beberapa saran
sebagai berikut :
5.2.1 Diharapkan
agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan, khususnya hutan. Karena hutan
dapat menyediakan kebutuhan yang kita perlukan untuk hidup, baik di masa
sekarang, maupun masa yang akan datang.
5.2.2 Diharapkan pemerintah dan segenap elemen
masyarakat tidak hanya menjadikan program penghijauan sebagai pendidikan dan formalitas
belaka, namun lebih mengutamakan tindakan langsung di lapangan.
5.2.3 Diharapkan pembangunan yang kini gencar
dilakukan pemerintah, khususnya pemerintah Kota Batu juga mempertimbangkan
aspek lingkungan.
Catatan Hasil Wawancara
Narasumber : Pak Syaifuddin Zuhri atau Gus Udin
Waktu : Minggu, 14 Maret 2010
No.
|
Fokus Penelitian
|
Uraian Wawancara
|
1.
|
Alasan menyelamatkan lingkungan.
|
Penulis:
“Mengapa bapak berkeinginan mengadakan
penyelamatan lingkungan Kota Batu?”
Gus Udin :
“Sebenarnya niat saya untuk alam ini
ikhlas karena Allah. Saya sebagai penduduk bumi hanya merasa dititipi
lingkungan ini oleh Allah. Semua pekerjaan jika dikerjakan dengan ikhlas
pasti akan mendapat imbalan dari Allah yang lebih baik. Namun alasan yang
lain, udara di Kota Batu sekarang panas, tidak seperti dulu. Padahal Kota Batu
dulu itu sangat sejuk dan hijau.
Sekarang hutan-hutan banyak yang ditebangi. Padahal pepohonan di hutan
melindungi mata air. Ibaratnya, 1 pohon itu menyediakan 1 liter air. Bisa
dibayangkan, jika 1 pohon habis ditebang, berapa liter air yang terbuang. Apa
kita tidak kasihan dengan anak cucu kita nanti, 10 tahun lagi? Lihat saja, di
Batu sekarang semua lahan hijau hampir berubah menjadi beton. Kalau bukan
kami rakyatnya yang sadar, siapa lagi? Pemerintah hanya mementingkan proyek,
lalu mendapat untung dari proyek tersebut. Mereka seperti tidak memikirkan
bagaimana kondisi lingkungan akibat dibanangunnya proyek-proyek itu. ”
|
2.
|
Upaya penyelamatan lingkungan Kota
Batu.
|
Penulis:
“Upaya apa yang bapak lakukan untuk
menyelamatkan lingkungan Kota Batu?”
Gus Udin :
“Semua ini karena Allah. Upaya-upaya
yang saya mungkin hanya sebagain kecil dari penyelamatan lingkungan. Saya
bersama teman-teman yang tergabung dalam Komunitas Merah Putih sudah
mengadakan beberapa acara yang bertajuk lingkungan. Seperti wayangan dengan
lakon Petruk bertaubat, taubat nasional, kunjungan dari Sultan
Hamengkubuwono, dan 1001 kyai dalam seruan taubat bersama untuk negeri.
Kegiatan ini sekaligus ajakan tobat bersama, karena kondisi alam kita yang
semakin rusak dan bencana alam yang semakin akrab dengan kehidupan kita. Jika
dipikir-pikir, kegitan-kegiatan tersebut membutuhkan dana yang cukup besar.
Namun ada saja dana yang mengalir untuk kegitan ini. Yang terpenting,
semuanya harus dilakukan dengan ikhlas. Alam akan bergerak untuk membantu.
Untuk penanaman pohon beringin, Alhamdulillah sampai sekarang sudah ±17.000
pohon beringin sudah kami tanam. Semuanya tersebar di mana-mana. Seperti
bapak ini (menunjuk seorang anggota Komunitas Merah Putih) sudah menanam
beberapa pohon di daerah Pujon dan Lamongan.”
|
3.
|
Penggunaan pohon beringin untuk
penghijauan.
|
Penulis:
“Mengapa bapak menggunakan pohon
beringin, tidak pohon yang lain?”
Gus Udin :
“Kita menggunakan beringin bukannya ada
kaitan dengan partai politik lho,
tetapi pohon Beringin adalah pohon yang diperlukan di Kota Batu untuk menjaga
pelestarian alam. Beringin adalah pohon yang kuat tahan lama. Akarnya
panjang, besar, menjalar ke mana-mana, sehingga bisa melindungi mata air yang
ada di dalam tanah. Akar tunggangnya mampu menembus hingga area artesis, sehingga sumber mata air
akan kembali muncul. Selain itu, pohon beringin itu jarang ditebang, kayunya
tidak laku dijual. Pohon beringin juga tidak dimakan oleh hewan-hewan yang
ada di hutan. Jadi intinya, beringin itu bermanfaat dalam jangka panjang.”
|
4.
|
Lokasi penanaman pohon beringin.
|
Penulis:
“Di mana saja lokasi penanaman pohon
beringin tersebut?”
Gus Udin :
“Di Gunung Bale, Kasiran, Gunung
Banyak, ereng-ereng Kawi, banyak kok,
pokoknya hampir seluruh gunung di Malang raya.”
|
5.
|
Komunitas Merah Putih.
|
Penulis:
“Bapak tadi menyebutkan Komunitas
Merah Putih, bisa dijelaskan sedikit tentang komunitas tersebut?”
Gus Udin:
“Dalam komunitas Merah Putih itu tidak
ada ketua. Anggota dari komunitas ini terbuka bagi siapa saja. Namun syarat
utamanya adalah orang-orang yang sadar akan lingkungan dan nasib bangsa ini.
Komunitas Merah Putih itu tidak hanya bagi wilayah Kota Batu saja. Anggota
kita ada yang dari Sumatra, Medan, Semarang, Jakarta, dsb. Seluruh masyarakat
di Indonesia boleh bergabung dalam komunitas ini. Yang terpenting, mereka
harus sadar akan lingkungan dan nasib bangsa kita di masa yang akan datang.”
|
6.
|
Penulis:
“Bagaimana cara anggota Komunitas
Merah Putih melaksanakan misi penyelamatan lingkungan tersebut?”
Gus Udin:
“Anggota komunitas kami yang berasal
dari Jakarta, Medan, Semarang, Jogjakrta, yang juga berasal dari berbagai
kalangan mulai dari pelajar, masyarakat setempat, anak yatim-piatu, pejabat,
politikus, bahkan pejabat negara menanam pohon beringin di daerahnya
masing-masing. Kami hanya memeberi bibit pohon beringin. Biar mereka sendiri
yang menanam di dekat rumahnya, untuk melindungi mata air di daerah mereka.
Untuk menanam pohon tersebut ada doanya, begini, “Allahumma astafani, bumi kang ngabekti, jagad kang paring berkah,
siti pertelo, nglebur durbolo, ngelup sucakele poncoboyo. Nekakaken rejekine,
ngedohaken blaine, pitung alas, pitung kursi. Kantuk berkahe para nabi, para
wali, mboksri sedono ijo royo-royo, kadya sanggar warigin telogo mengo sualer
miti, birohmatika ya arkhamarroohimin”, itu adalah doa Sunan Kalijaga
saat menanam pohon beringin.
|
|
7.
|
Dampak
kegiatan penanaman pohon beringin bagi lingkungan Kota Batu.
|
Peneliti:
“Setelah diadakan penanaman pohon
beringin tersebut, apa dampaknya terhadap lingkungan Kota Batu, pak?”
Gus Udin:
“Sekarang mungkin belum bisa dilihat
hasilnya, tapi 5-10 tahun ke depan insyaallah
bermanfaat. Namun masyarakat sekarang sudah lebih sadar akan lingkungan.
Mereka tidak lagi menembaki burung yang ada di hutan. Penebangan hutan oleh
warga pun sudah lebih banyak berkurang. Mereka mulai sadar akan nasib anak
cucu mereka nanti. Bahkan banyak dari mereka yang ingin ikut bergabung dalam
Komunitas Merah Putih.”
|
dapat salam dari pak dhe gus udin
ReplyDeleteloh, iya a mas? waduh, jadi malu saya hehe
Deletemaaf, sampean siapanya gus udin mas? hehe
Untuk gabung di komunitas ini gimana yah caranya? Apa ada alamat untuk tempat meet up dg gus udin? Makasih
ReplyDeleteJackpot City - Casino Finder
ReplyDeleteJackpot City 밀양 출장안마 is an online gambling site 남양주 출장마사지 that you can 속초 출장안마 play at without a deposit. The site has 여수 출장마사지 over 7000 games, but the site 안동 출장샵 does not offer any bonuses or