Pages

Sunday, June 26, 2016

MENUNGGU BAPAK

Ketika kami ditanya, siapa orang yang paling kalian sayang?
Jawaban kami pastilah sama: Bapak.
***
Ketiga pasang mata itu menajamkan pandangan ke arah laut di depannya. Namun yang sejak tadi ditunggu belum juga tampak. Sesekali, enam mata itu memilih untuk memandangi Pulau Mandalika demi mengusir bosan.
“Bapak pulang! Itu kapal bapak! Bapak pulang!” Nilam tersentak dengan teriaknnya sendiri. Seketika ia berdiri sambil membersihkan pasir pantai yang menempel pada rok merahnya.
“Horeeee! Bapak pulang! Bapak pulang!” teriak Bayu tak kalah senang. Sementara Adi, si bungsu, hanya melompat-lompat kegirangan mengikuti tingkah kedua kakaknya.
Suara azan zuhur mengiringi kedatangan perahu yang sejak tadi mereka tunggu. Bendera merah putih ditambah bendera jingga milik salah satu partai politik itu semakin terlihat jelas berkibar di ujung tiang, meyakinkan Nilam dan dua adiknya bahwa bapak mereka akan secepatnya tiba di daratan. Dan, seperti biasa, mereka telah siap memeluk tubuh sang bapak yang beraroma matahari dan peluh, wangi yang mereka tunggu tiap harinya.
Empat nelayan dalam perahu itu turun satu persatu. Masing-masing  mengatur posisi untuk mendorong perahu agar mencapai bibir pantai. Bayu pun dengan sigap membantu nelayan-nelayan itu menambatkan perahu di pantai. Setelah segala pekerjaan menepikan perahu itu rampung, Nilam dan kedua adiknya berlari ke arah Rujiman, sang bapak. Bergantian, ketiganya mencium tangan bapak kesayangan mereka. Pria paruh baya itu pun mengelus rambut mereka, lalu mencium kening mereka satu persatu.
“Ayo Man, cukup temu kangennya.” ujar salah satu teman Rujiman yang  bertubuh jangkung. Ia nampak keberatan menurunkan beberapa kotak yang berisi ikan-ikan tangkapan mereka.
“Iya Srun, iya, tunggu sebentar.” Rujiman mengerti maksud dari perkataan temannya tadi. Ia pun tersenyum dan memberi anggukan kecil pada Nilam dan kedua adiknya, mengisyaratakan mereka untuk kembali ke rumah.
Tangkapan hari ini lebih sedikit daripada kemarin. Kondisi laut utara Jawa yang kian keruh telah menghalau ikan-ikan ke tempat yang lebih jauh, semakin sulit dijangkau perahu-perahu kecil nelayan, dan tentunya banyak membuang solar yang harganya makin mahal.
Keempat nelayan itu tiba di TPI1 Ujungwatu. Rujiman dan ketiga temannya  menghampiri seorang pria bertubuh tinggi besar yang menjadi pelanggan tetap untuk hasil tangkapan mereka. Kali ini, pria itu memakai kaos pemberian salah satu caleg yang beberapa minggu lalu berkampanye di Desa Ujungwatu. Topi baretnya yang sudah jebol disana-sini plus kepulan asap rokok dari mulutnya selalu menyambut Rujiman dan nelayan-nelayan lain saat mendatanginya.
“Oke, kerapu tujuh basket, kakap putih lima basket, gerabah dua basket, sembilang satu basket. Jadi totalnya dua ratus enam puluh ribu yo Pak?” pria itu nampak sibuk menghitung keranjang-keranjang kotak milik Rujiman dan temannya.
Waduh, Mbok yo ditambah lagi Pak Nar…” Rujiman memohon pada pria itu. Terbayang olehnya separuh hasil pendapatannya akan diberikan pada juragan darat2 pemilik perahu, sementara separuhnya lagi harus dibagi rata pada ketiga temannya. Itu pun belum termasuk ongkos solar yang harus dibeli untuk menggerakkan perahunya.
Setelah tawar menawar yang cukup lama, pria besar itu yang memberikan tiga lembar uang seratusribuan dari kantong celananya. Rujiman dan teman-temannya tahu, uang itu akan berlipat ganda di tangan penjual ikan di pasar. Tapi, apa lagi yang bisa mereka lakukan selain pasrah dan berharap agar pemerintah mampu memperbaiki nasib mereka?
***
Nilam keluar dari gorden merah hati yang dijadikan pembatas antara ruang tamu dan dapur. Ia membawa sebakul nasi dan sepisin sambal terasi. Di belakangnya, Bayu membantu membawakan piring berisi empat ikan sembilang goreng, sisa hasil tangkapan bapaknya kemarin. Adi mengekor di belakang Bayu. Tugasnya membawakan rantang berisi air kobokan.
“Ayo Pak, monggo, dimakan dulu” ujar Nilam lembut.
 “Oh, iya iya, ayo, kita makan sama-sama. Pasti kalian juga lapar to?”
Nilam dan kedua adiknya mengangguk. Lalu bergantian mengambil nasi dalam bakul, satu ikan sembilang goreng, dan sedikit sambal dari pisin.
Nasihat Rujiman untuk tidak berbicara saat makan benar-benar dilaksanakan dengan baik oleh Nilam dan adik-adiknya. Ruangan tak berubin itu hening. Hanya terdengar kecapan lidah dalam mulut yang tertutup, diselingi suara-suara yang menahan pedas. Namun, 15 menit setelah keheningan yang diupayakan itu, suasana di ruang multifungsi itu terdengar hidup. Sesekali terdengar tawa lepas Rujiman saat mendengar hal lucu yang keluar dari mulut Adi.
Dalam tawa yang terjeda cukup panjang, Rujiman menatap Adi. Umurnya tujuh tahun. Sebenarnya ia sudah masuk usia sekolah. Namun, lagi-lagi masalah biaya. Rujiman sudah terlalu sering meminjam uang kesana-sini untuk menyekolahkan kedua kakaknya. Mau tak mau, ia harus menjadikan Adi sebagai tumbal agar beban ekonomi  keluarganya tidak bertambah berat.
Rujiman merasa tak sanggup lagi menyatukan realita dan harapan. Baginya, itu adalah sumber penyakit. Dan ia memilih untuk tidak sakit. Mau tak mau, Adi tidak ia sekolahkan. Namun Rujiman berjanji akan mendidik Adi agar menjadi nelayan yang sukses, nelayan yang tangguh, nelayan yang punya perahu sendiri.
“Pak, Nilam tanya ya Pak? Tadi di sekolah,  Nilam dijelaskan Bu Muji tentang wilayah Indonesia. Negara kita itu kan Negara agraris dan maritim, tapi kenapa petani dan nelayan di negeri kita tetap miskin, Pak?” tiba-tiba Nilam membuyarkan lamunan Rujiman. Jeda dalam di ruangan itu kembali terisi.
Rujiman kebingunan menjawab pertanyaan putrinya. Ia kembali dihadapkan pada realita, yang jawaban atas segala pertanyaannya takkan seindah apa yang ia mau. Rujiman terdiam. Rasanya ia ingin menyalahkan pemerintah, namun Rujiman sadar akan dirinya yang tidak mengenyam pendidikan apapun. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain pasrah dan berharap agar pemerintah mampu mensejahterakan kehidupannya?
 “Bapak gak tau jawabannya Nduk. Itu tugas kamu, Bayu, juga Adi untuk memperbaiki nasib mereka. Kelak, jadilah orang hebat.”
Nggih, Pak. Doakan Nilam ya, Pak. Nilam mau jadi presiden!”
“Aku juga pak, aku juga… Bayu mau jadi presiden!” Bayu semangat menimpali.
“Adi juga mau jadi presiden, Pak. Presiden yang bisa berubah jadi satria baja hitam !” Adi tak mau kalah.
“Hahaha… Kalian anak-anak bapak yang hebat. Tapi hebat itu tak harus jadi presiden, Lam, Yu, Di… Orang hebat itu orang yang bisa memperbaiki keadaan negara, banyak maupun sedikit. Jadilah orang yang bermanfaat buat orang lain yo Nduk, Le… ” Rujiman mengakhiri percakapan kecil di ruangan ---- yang juga kecil itu dengan harapan. Harapan yang besar untuk masa depan, untuk anak-anaknya.
Entah mengapa, makan siang hari itu terasa amat nikmat bagi mereka, berbeda dari biasanya.
***
Terik matahari masih membakar daun-daun bakau yang dilewati Bayu dan Adi dalam perjalannya menuju bibir pantai. Seperti biasa, mereka akan menjemput Rujiman sekaligus melakukan segala ‘ritual’ penyambutan bapak mereka. Namun kali ini mereka pergi tanpa Nilam. Keduanya berjalan sedikit terburu-buru dan nampak gelisah.
Keempat mata milik keduanya pun menatapi Pulau Mandalika yang ada di sebelah utara. Pulau kecil yang membuat mereka dan Nilam berkali-kali memuji kebesaran Tuhan. Pulau yang selama ini mereka jadikan hiburan saat mata mereka bosan menanti kedatangan perahu sang bapak.
Bayu dan Adi sudah selesai bermain pasir pantai dan berburu cangkang kerang. Namun perahu bapak mereka belum juga nampak. Mereka pun semakin cemas, terlebih Bayu. Sebentar-sebentar ia berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di bibir pantai.
Akhirnya, setelah satu jam sejak kedatangan Bayu dan Adi di tempat itu, kapal bapak mereka mulai nampak di kejauhan. Semakin lama, perahu yang memiliki panjang 6,5 meter dan lebar 2,5 meter itu kian mendekat, dan akhirnya menepi. Bayu dan Adi tak sabar menunggu bapak mereka turun. Keduanya pun berlari menghampiri Rujiman.
“Pak, Mbak Nilam Pak!”
Rujiman baru sadar jika Nilam tidak ada disana. Senyum Rujiman perlahan meredup, kemudian hilang samasekali. Cepat-cepat ia turun dari perahu.
“Loh, mbakmu  mana le? Mbak Nilam kenapa?” tanyanya khawatir.
“Mbak Nilam berdarah Pak. Mbak Nilam nangis terus daritadi.”
Cepat-cepat Rujiman menurunkan hasil keranjang-keranjang berisi ikan dari dalam perahu. Lalu, Rujiman mengatakan pada ketiga temannya bahwa ia tidak ikut membawa ikan-ikan penghasil uang itu ke TPI. Setelah meminta maaf dan berterimaksih pada ketiga temannya, buru-buru Rujiman mengajak kedua putranya pulang ke rumah.
***
Di dalam kamar, Nilam menangis sesenggukan. Ia terduduk di salah satu ujung kamar, menenggelamkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya yang mungil.
“Nilam, kamu kenapa? Kata Bayu kamu berdarah? Kamu habis jatuh, Nduk? Dimana? Mana yang sakit?” Rujiman tergopoh-gopoh masuk ke kamar. Kekhawatirannya semakin memuncak.
Nilam tak menjawab, malah suara tangisnya semakin keras. Bapak mendekatinya, namun Nilam justru menjauh.
“Kamu kenapa? Kaki atau tangan yang berdarah? Cerita Nduk sama Bapak, Bapak gak ngerti kalo kamu diam saja.”
 “Pak…” ucap Nilam akhirnya.
“Iya Nduk? Kamu kenapa?”
“Sepertinya Nilam menstruasi, Pak…”. “Bagaimana ini Pak? Nilam takut…” lanjutnya. Tangisnya semakin keras.
Ada perasaan lega dan bingung yang bercampur dalam diri Rujiman. Entah mengapa, tiba-tiba saja Rujiman merasakan rindu pada sosok Lastri. Seketika ingatan itu menyeruak kembali. Menjalar dari otak, mengalir bersama darah, hingga hatinya. Perih. Lastri. Istri yang amat dicintainya, istri yang meninggalkannya saat paceklik dating lima tahun yang lalu, istri yang saat ini benar-benar ia butuhkan untuk Nilam. “Ah, andai kau ada disini…” batin Rujiman.
 “Sudah Nduk. Menstruasi itu tidak bahaya kok. Menstruasi itu baik untuk wanita.” Rujiman asal menerangkan. “Kamu disini saja nduk, biar bapak belikan pembalut di warungnya Mbak Lis.”
“Iya Pak, Maaf ya, Nilam sudah ngrepoti Bapak.”
Sambil menahan perutnya yang sakit, berkali-kali Nilam mengucap syukur atas anugerah Tuhan yang ada di depannya, Rujiman. Bapak kesayangannya, bapak kesayangan adik-adiknya.
***
Musim Baratan3 telah tiba. Sejak awal Desember lalu, Syahbandar4 Jepara sudah melarang seluruh nelayan Jepara untuk pergi melaut. Musim seperti sekarang ini adalah musim yang beresiko tinggi jika para penebar jala itu memaksakan diri turun ke laut. Cuaca di laut amat membahayakan, ombaknya tinggi, anginnya kencang.
Sudah hampir satu bulan Rujiman dan nelayan-nelayan lain di Ujungwatu tidak melaut. Sementara di masing-masing rumah mereka, persediaan beras semakin menipis, kebutuhan lain semakin menumpuk. Tak heran, toko emas di kota kian ramai kedatangan para istri-istri nelayan yang menggadaikan perhiasan demi membantu perekonomian keluarga.
Esok, Nilam dan Bayu akan menerima rapor. Sama seperti yang dulu-dulu, uang pembayaran sekolah yang lunas menjadi syaratnya. Seharian Rujiman memikirkan hal itu. Para juragan darat tak mau dihutangi karena mereka pun tengah menggunakan timbunan uangnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Para nelayan di desa itu memang sedang mengalami musim paceklik yang cukup parah.
Memang, tiga hari terakhir ini cuaca di pantai utara Jawa mulai membaik. Sore itu, langit sedang cerah. Ketinggian ombak juga menurun. Ba’da ashar, tiga perahu nelayan desa Ujungwatu sudah bersiap-siap pergi melaut ---- saat hari biasa, mereka baru pergi melaut pukul tiga pagi. Hampir seluruh nelayan dalam tiga perahu itu adalah para orang tua yang pemikirannya ‘sekarat’ sebab penerimaan rapor esok hari. Sudah tentu, Rujiman termasuk di dalamnya. Pukul 15.30. Suara mesin perahu mereka mulai terdengar. Perahu-perahu itu mulai menjauhi pantai. Bergerak menuju ke tengah laut. Membawa harapan dan doa para istri dan anak-anak nelayan yang ada di dalamnya.
Ternyata cuaca sore itu bukanlah hal yang pasti. Cuaca itu mengelabui sekaligus menyadarkan bahwa ia termasuk misteri Ilahi yang tidak dapat diprediksi. Saat tiga perahu nelayan sampai di tengah laut, gelombang air laut terlihat meninggi. Dua perahu di bagian depan berhasil melewati ombak besar tersebut. Namun tidak demikian dengan perahu yang ditumpangi Rujiman dan empat nelayan lainnya. Awalnya, gelombang besar dari arah samping bisa mereka lewati. Namun, kemudian datang lagi dari arah depan, menerjang perahu mereka hingga terbalik. Rujiman yang berada di bagian depan perahu pun terpental ke samping. Lalu, ia tercebur ke dalam air. Sekuat tenaga, Rujiman berusaha berpegangan ke badan kapal yang sudah terbalik agar tidak tenggelam. Namun, tak  lama, ombak besar kembali datang dan menggulung tubuhnya. Kemudian, semuanya terasa gelap bagi Rujiman.
***
Pukul tujuh pagi. Nilam, Bayu, dan Adi masih belum beranjak dari duduknya di bibir pantai. Menunggu sang bapak yang berjanji pulang dini hari. Sang bapak yang berjanji mengambil rapor pukul sembilan hari ini. Mereka belum tahu, yang mereka tunggu tak akan pernah pulang…



1 Pasar yang biasanya terletak di dalam pelabuhan / pangkalan pendaratan ikan, dan di tempat tersebut terjadi transaksi penjualan ikan/hasil laut baik secara lelang maupun tidak
2 Pemilik perahu yang mempekerjakan nelayan lain, tanppa ikut bekerja turun ke laut
3 Musim saat curah hujan bertambah banyak, gelombang air laut tinggi, dan angin kencang di lautan dari arah barat

4 Pegawai negeri yg mengepalai urusan pelabuhan; kepala pelabuhan
 

GITA HARSAYA Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos