Monday, January 21, 2013
Diam Berdiam-diaman
Diam
Sepi, tak bersuara
Di ujung malam, permulaan pagi
Diam
Hiruk yang gersang
Senyap dalam detak arloji ketujuhbelas
Diam
Di samping serakan buku tak terbaca
Di atas ranjang kapuk yang terlanjur buluk
Diam
Mati dalam terang
Diam yang menyerah, diam yang kalah
Diam
Jemawa yang terlalu lebar
Sesak, terhimpit megah
Diam
Kasih yang beku
Dingin...
Thursday, January 17, 2013
PENGGUNAAN EM5 SEBAGAI PESTISIDA ORGANIK YANG EKONOMIS DAN RAMAH LINGKUNGAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam dunia pertanian saat ini, berbagai kendala sosial, ekonomi,
dan teknis bermunculan. Masalah organisme
pengganggu tanaman (OPT) seperti hama, penyakit, dan gulma, mengakibatkan penurunan produksi
pertanian. Maka dari itu, diperlukan solusi untuk membasmi OPT tersebut hingga
produksi pertanian dapat diperoleh secara maksimal.
Zat kimia anti hama atau yang lebih sering disebut pestisida
dijadikan salah satu andalan para petani untuk mengatasi itu semua. Penggunaan
pestisida telah dirasakan manfaatnya untuk meningkatkan produksi. Pestisida
merupakan sarana yang sangat diperlukan, terutama digunakan untuk melindungi
tanaman dan hasil tanaman. Bahkan sebagian besar petani beranggapan bahwa
pestisida adalah “dewa penyelamat”, sebab dengan bantuan pestisida, petani
dapat terhindar dari kerugian akibat serangan pengganggu tanaman yang terdiri
dari kelompok hama, penyakit, maupun gulma. Keyakinan tersebut, cenderung
memicu pengunaan pestisida dari waktu ke waktu meningkat dengan pesat.
Meskipun penggunaan
pestisida makin ditingkatkan , masalah hama-hama tidak dapat diatasi, malah
makin mengganas. Pestisida juga menimbulkam masalah lingkungan seperti matinya
makhluk bukan sasaran (ikan, ular, katak, belut, serangga penyerbuk, dll.) dan
musuh alami (predator, parasitoid), residu pestisida dalam bahan makanan, keracunan
pada manusia, pencemaran air, tanah, dan udara, serta ongkos produksi yang
sangat mahal dan sia-sia.
Pestisida sering
mendatangkan dampak negatif terutama bagi lingkungan. Namun, usaha tani (agribisnis)
tanpa pestisida tidak bisa dihentikan begitu saja. Pertambahan jumlah penduduk
mengharuskan adanya peningkatan produksi tanaman. Di satu pihak dengan
pestisida kimia, kehilangan hasil pertanain akibat OPT dapat ditekan, tetapi
menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Di pihak lain, tanpa pestisida kimia
akan sulit menekan kehilangan hasil akibat OPT.
1.2
Rumusan Masalah
Di dalam suatu penelitian akan muncul suatu pokok permasalahan yang menjadi
arah dalam penelitian. Dalam penelitian ini, permasalahan dirumuskan sebagai
berikut :
1.2.1
Bagaimana upaya mengatasi masalah
lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan pestisida kimia?
1.2.2
Apa keuntungan yang dapat diperoleh dari
penggunaan EM5 sebagai pestisida organik terhadap lingkungan?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang masalah dan rumusan masalah sebagaimana
dikemukakan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah :
1.3.1
Untuk mengetahui bagaimana upaya
mengatasi masalah lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan pestisida kimia.
1.3.2
Untuk mengetahui apa saja keuntungan
yang dapat diperoleh dari penggunaan EM5 sebagai pestisida organik terhadap
lingkungan.
1.4 Manfaat Penelitian
Mengingat tujuan
penelitian di atas, maka manfaat di dalam penelitian ini adalah :
1.4.1
Sebagai bahan referensi bagi kalangan akademis.
1.4.2
Sebagai bahan pembanding penelitian lain dengan
variabel berbeda.
1.4.3
Untuk memperkaya khasanah studi ilmiah.
1.4.4
Sebagai informasi kepada masyarakat, khususnya petani
tentang cara menyiasati masalah lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan
pestisida kimia.
1.4.5
Sebagai bahan pertimbangan bagi petani dalam upaya
penanggulangan hama yang ekonomis dan ramah lingkungan.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 Kajian
Mengenai Pestisida
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk
mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Sasarannya
bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu (www.wikipedia.com).
Hama yang menyerang tanaman atau hewan sangat banyak
jenisnya karena itu orang membuat bermacam-macam pestisida. Umumnya satu
pestisida sangat ampuh terhadap satu jenis hama. Berdasarkan jenis hama yang
akan diberantas, pestisida dapat digolongkan menjadi 4, yaitu :
·
Insektisida : pestisida pencegah dan pembunuh
serangga.
·
Fungisida : pestisida untuk jamur.
·
Rodentisida : pestisida pencegah dan pembasmi tikus.
·
Herbisida : pestisida pencegah dan pembasmi
tanaman.
Pestisida tersusun dan
unsur kimia yang jumlahnya tidak kurang dari 105 unsur. Namun yang sering
digunakan sebagai unsur pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih
sering dipakai adalah carbon, hydrogen,
oxigen, nitrogen, phosphor, chlorine dan sulfur. Sedangkan yang berasal dari logam atau semi logam adalah ferum, cuprum, mercury, zinc dan arsenic.
Penggunaan pestisida
kimia pertama kali diketahui sekitar 4.500 tahun yang lalu (2.500 SM) yaitu
pemanfaatan asap sulfur untuk mengendalikan tungau di Sumeria. Sedangkan
penggunaan bahan kimia beracun seperti arsenic,
mercury dan serbuk timah diketahui
mulai digunakan untuk memberantas serangga pada abad ke-15.
Penggunaan pestisida
terus meningkat lebih dari 50 kali lipat semenjak tahun 1950, dan sekarang
sekitar 2,5 juta ton pestisida ini digunakan setiap tahunnya (Miller dalam
Samsudin, 2008).
Beberapa dampak negatif
dari penggunaan pestisida kimia pada lahan pertanian yang telah diketahui
diantaranya, mengakibatkan resistensi
hama sasaran, terbunuhnya musuh alami, tanah dan hasil pertanian mengandung
residu pestisida (DDT, endrin, lindane, endosulfan, dll.), mencemari
lingkungan, gangguan kesehatan bagi pengguna manusia, bahkan beberapa pestisida
disinyalir memiliki kontribusi pada fenomena pemanasan global (global warming) dan penipisan lapisan
ozon (Reynolds dalam Samsudin, 2008).
2.2 Kajian Mengenai Pestisida
Organik
Pestisida
organik adalah pestisida yang diyakini ramah lingkungan
sehingga lebih sedikit menyebabkan kerusakan pada ekosistem dan kesehatan hewan (www.wikipedia.com). Mekanisme
kerja pestisida organik ini bersifat racun kontak, racun perut, maupun bersifat
sistemik. Pestisida organik berfungsi sebagai zat pembunuh, penolak, pengikat
dan penghambat pertumbuhan OPT.
Pestisida botani atau
pestisida organik bahan aktifnya berasal dari berbagai produk metabolik
sekunder dalam tumbuhan. Misal Rotenon dari akar tuba (Derris eliptica) dan Azadarachtin dari mimba (Azadirachta indica). Pestisida organik lainnya menggunakan ekstrak
alami untuk mengusir bukan membunuh hama. Beberapa produk menggunakan bawang
putih atau cabai dan minyak esensial dari rempah-rempah seperti cengkeh untuk
mengusir serangga dan hama lain.
Pestisida
organik memiliki beberapa fungsi, antara lain:
- Repelan, yaitu menolak kehadiran serangga, misalnya dengan bau yang menyengat.
- Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot.
- Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa.
- Menghambat reproduksi serangga betina.
- Racun saraf.
- Mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh serangga.
- Atraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga.
- Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri.
Pestisida organik memiliki beberapa keunggulan, yaitu tidak
mencemari lingkungan, degredasi atau penguraian yang cepat (masa aktif residu
lebih pendek), toksisitas (daya racun) umumnya lebih rendah, selektivitas
tinggi, cara kerja yang berbeda dengan pestisida kimia, serta mudah
dilaksanakan dan murah.
2.3 Kajian
Mengenai Effective
Microorganisms-4 (EM4)
EM4
merupakan kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan, bermanfaat
bagi kesuburan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman, serta ramah lingkungan.
EM4 mengandung mikroorganisme fermentasi dan sintetik yang terdiri dari bakteri
asam laktat (Lactobacillus sp),
bakteri fotosintetik (Rhodopseudomonas sp),
Actinomycetes sp, Streptomyces sp, yeast (ragi), dan jamur pengurai selulose untuk memfermentasi bahan
organik tanah menjadi senyawa organik yang mudah diserap oleh akar tanaman.
Teknologi
EM4 adalah teknologi budidaya pertanian untuk meningkatkan kesehatan serta
kesuburan tanah dan tanaman, dengan menggunakan mikroorganisme yang bermanfaat
bagi pertumbuhan tanaman.
Teknologi EM4 ditemukan
pertama kali oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus, Okinawa,
Jepang. Teknologi ini telah diterapkan secara luas di negara-negara lain di
seluruh dunia, seperti Amerika, Brasil, Taiwan, Korea Selatan, Thailand,
Philipina, Malaysia, Bhutan, Myanmar, Bangladesh, Srilanka, India, Pakistan,
Selandia Baru, dan Pakistan.
Penerapan teknologi EM4
merupakan suatu teknologi alternatif yang memberikan peluang selus-luasnya untuk
meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi tanaman pertanian dengan cara
sinergis yang dapat menekan populasi hama dan penyakit tanaman, sehingga dapat
meningkatkan kesuburan tanah secara efektif dan meningkatkan kesehatan
pertumbuhan tanaman.
2.4 Kajian Mengenai Effective Microorganisms-5 (EM5)
EM5 atau
kepanjangan dari Effective Microorganisms-5 adalah salah satu pestisida organik
yang dalam pembuatannya menggunakan teknologi EM4.
Dengan mengembangkan
produk EM4 menjadi EM5, bisa diperoleh pestisida dengan cara yang mudah. Cara
pembuatan larutan EM5 adalah sebagai berikut :
Bahan-bahan :
·
EM4 :
100 ml
·
Molase (gula tetes tebu) : 100 ml / ½ ons
·
Alkohol 40% : 100 ml
·
Cuka makan : 100 ml
·
Air cucian beras yang pertama : 1000 ml
·
Jahe, lengkuas, kencur, kunyit : masing-masing 1 jempol tangan
·
Brotowali : 10 cm
·
Bawang merah : 3-5 siung besar
·
Bawang putih : 5-10 siung besar
·
Sereh :
2 batang
·
Daun mimba :
1-2 ons
Cara Pembuatan :
·
Hancurkan semua bahan rempah-rempah
dengan menggunakan alat penumbuk/blender. Untuk membantu proses penghancuran
dengan blender, gunakan air cucian beras yang pertama.
·
Setelah semua bahan rempah hancur,
masukkan ke dalam botol/jerigen (termasuk ampasnya). Masukkan pula bahan-bahan
yang lain secara berurutan, dimulai dari cuka makan, alkohol, molase, dan
terakhir larutan EM4, lalu kocok sampai merata.
·
Simpan dalam suhu ruangan, dalam kondisi botol/jerigen
tertutup. Kocok setiap pagi dan sore hari. Buka tutup botol untuk membebaskan
gas yang terbentuk selama proses fermentasi berlangsung.
·
15 hari atau
setelah tidak ada gas yang terbentuk, pengocokkan dihentikan. Biasanya EM5 yang
sudah jadi berbau sedap yang khas. Bila baunya tak sedap (bau busuk), tandanya
pembuatan EM5 gagal.
·
iarkan lagi selama 7 hari, baru EM5
bisa digunakan.
·
EM5
harus disimpan di tempat yang relativf dingin, gelap, dan suhu ruangan relatif
stabil.
·
EM5
harus sudah digunakan dalam waktu 3 bulan setelah dibuat.
Cara pemakaian :
EM5 digunakan dengan cara disemprotkan ke seluruh tanaman
dengan konsentrasi 5-10 ml/liter air. Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada
sore hari, menjelang matahari terbenam. Untuk kebutuhan bahan dengan
jumlah yang lebih besar, bahan-bahan disiapkan secara proporsional dengan
komposisi yang sama dengan di atas. Penyemprotan tanaman dengan EM5 sebaiknya
dilakukan secara teratur, misalnya setiap minggu sekali, pada sore hari atau
setelah hujan lebat. Akan tetapi jika tanaman kita telah diserang hama
sebaiknya penyemprotan dilakukan setiap hari.
2.5 Kajian Mengenai Pencemaran
Pencemaran adalah suatu gejala masuknya zat-zat atau
komponen lain ke dalam lingkungan, sehingga kualitasnya menurun sampai tingkat
tertentu. Pencemaran juga menyangkut perubahan tatanan lingkungan dari segi
fisik, kimia, dan biologis oleh kegiatan manusia maupun proses alam. Pencemaran
banyak terjadi dan terlihat pada air, laut, tanah atau lahan, dan udara.
Pencemar ada yang langsung terasa dampaknya, misalnya berupa
gangguan kesehatan langsung (penyakit akut), atau akan dirasakan setelah jangka
waktu tertentu (penyakit kronis). Sebenarnya alam memiliki kemampuan sendiri
untuk mengatasi pencemaran (self recovery),
namun alam memiliki keterbatasan. Setelah batas itu terlampaui, maka pencemar
akan berada di alam secara tetap atau terakumulasi dan kemudian berdampak pada
manusia, material, hewan, tumbuhan dan ekosistem.
Proses pencemaran dapat terjadi secara langsung maupun tidak
langsung. Secara langsung yaitu bahan pencemar tersebut langsung berdampak
meracuni sehingga mengganggu kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan atau
mengganggu keseimbangan ekologis baik air, udara maupun tanah. Proses tidak
langsung, yaitu beberapa zat kimia bereaksi di udara, air maupun tanah,
sehingga menyebabkan pencemaran.
Pada pencemaran air, penyebabnya secara
umum dapat dikategorikan menjadi sumber kontaminan langsung dan tidak langsung.
Sumber langsung meliputi efluen yang
keluar dari industri, TPA (Tempat Pembuangan Akhir), dan sebagainya. Sumber
tidak langsung yaitu kontaminan yang memasuki badan air dari tanah, air tanah,
atau atmosfer berupa hujan. Tanah dan air tanah mengandung mengandung sisa dari
aktivitas pertanian seperti pupuk dan pestisida. Kontaminan dari atmosfer juga
berasal dari aktivitas manusia yaitu pencemaran udara yang menghasilkan hujan
asam.
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan
manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya
terjadi karena kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas
komersial, penggunaan pestisida, masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam
lapisan sub-permukaan, kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat
kimia, atau limbah, air limbah dari tempat
penimbunan sampah serta limbah industri
yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).
Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari
permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke
dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat
kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung
kepada manusia
ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.
BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Metode Penulisan
Dalam penulisan ini, penulis menggunakan metode
penelitian deskriptif. Menurut Nawawi (1993: 63) metode deskriptif merupakan
usaha untuk memecahkan masalah dengan membandingkan persamaan dan perbedaan
gejala yang ditemukan, mengukur dimensi, suatu gejala, mengadakan klasisifikasi
gejala, menilai gejala, menetapkan standar, menetapkan hubungan antar
gejala-gejala yang ditemukan. Adapun tujuan dari penulisan deskriptif adalah
untuk membuat gambaran atau deskripsi mengenai objek yang dikaji.
Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji
informasi mengenai penggunaan EM5 sebagai pestisida organik yang lebih ramah
lingkungan dibandingkan pestisida kimia.
3.2 Fokus Penulisan
Penulisan ini difokuskan :
3.2.1
Upaya
mengatasi pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan pestisida kimia
yang difokuskan pada larutan EM5.
3.2.2
Penggunaan
larutan EM5 yang meliputi aspek : manfaat terhadap lingkungan.
3.3 Instrumen
Penulisan
Instrumen pada penulisan ini yaitu
berupa data-data baik hard cover
maupun soft copy yang diperoleh dari
berbagai media cetak dan elektronik seperti internet, majalah, jurnal, artikel,
buku, serta instrmen lain yang mendukung mengenai penggunaan EM5 sebagai
pestisida organik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida kimia.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode
pengumpulan data yang digunakan untu mengkaji masalah yang dibahas dalam penulisan
ini adalah studi pustaka (study
literature), yaitu dengan cara menelusuri literatur yang ada dari berbagai
sumber, atau dengan melihat dan menyelidiki data-data tertulis yang ada dalam
buku, majalah, situs internet, artikel, dan sebagainya. Kemudian literatur yang
telah diperoleh tersebut dikaji atau ditelaah. Yang terakhir adalah
menyimpulkan poin-poin yang akan mendukung dalam menganalisa permasalahan yang
dibahas.
3.5 Metode Analisis Data
Penulisan karya tulis
ini diawali dengan mengumpulkan data-data yang relevan dengan permasalahan yang
dikaji. Metode analisis data yang digunakan, disesuaikan dengan rumusan masalah
secara sistematis sehingga memiliki informasi yang bisa serta mudah untuk
ditelaah.
Dalam penulisan ini,
penulis akan membahas tentang masalah-masalah atau fokus penulisan mengenai
penggunaan EM5 sebagai pestisida
organik yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pestisida kimia.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Upaya Mengatasi Pencemaran Lingkungan
yang Disebabkan oleh Penggunaan Pestisida Kimia
Dewasa ini, penggunaan pestisida semakin meningkat di kalangan para petani. Sebagian
besar masih menggunakan pestisida karena kemampuannya untuk memberantas hama
sangat efektif.
Pestisida sebagai bahan beracun, termasuk bahan pencemar
yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Pencemaran dapat terjadi
karena pestisida menyebar melalui angin, melalui aliran air dan terbawa melalui
tubuh organisme yang dikenainya. Residu pestisida sintesis sangat sulit terurai
secara alami. Bahkan untuk beberapa jenis pestisida, residunya dapat bertahan
hingga puluhan tahun. Dari beberapa hasil monitoring residu yang
dilaksanakan, diketahui bahwa saat ini residu pestisida hampir ditemukan di
setiap tempat lingkungan sekitar kita. Kondisi ini secara tidak langsung dapat
menyebabkan pengaruh negatif terhadap organisma bukan sasaran. Oleh
karena sifatnya yang beracun serta relatif persisten di lingkungan, maka residu
yang ditinggalkan pada lingkungan menjadi masalah.
Untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan terhadap
dampak negatif akibat penggunaan pestisida, perlu adanya upaya pengawasan
pengamanan pestisida. Sesuai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penggunaan
pestisida ditujukan bukan untuk memberantas atau membunuh hama, namun lebih
dititiberatkan untuk mengendalikan hama sedemikian rupa hingga berada dibawah
batas ambang ekonomi atau ambang kendali.
PHT adalah suatu cara pendekatan/cara berfikir/falsafah
pengendalian hama didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi
dalam kerangka pengelolaan agroekosistem secara keseluruhan. Konsep PHT
merupakan suatu konsep atau cara pendekatan pengendalian hama yang secara
prinsip berbeda dengan konsep pengendalian hama konvensional yang selama ini
sangata tergantung pada pestisida.
Upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan
terhadap input bahan kimiawi (pestisida) dalam proses produksi pertanian dapat
ditempuh melalui gerakan pertanian organik. Langkah-langkah yang dapat ditempuh
untuk menciptakan produk pertanian yang bersih meliputi :
·
Penggunaan varietas unggul tahan hama penyakit
dan tekanan / hambatan lingkungan.
·
Penerapan teknik budidaya yang mampu
mengendalikan OPT dan penggunaan pupuk organik.
·
Peramalan terhadap serangan hama penyakit.
·
Pengendalian OPT secara biologis.
·
Memacu penggunaan pestisida botani.
Selain itu, untuk mengatasi dampak negatif penggunaan
pestisida kimia, dapat digunakan pestisida alami atau bahan-bahan nabati (back to nature). Indonesia cukup kaya
akan potensi tanaman penghasil racun untuk memberantas organisme
pengganggu tanaman. Pemanfaatan potensi pestisida alami tersebut dapat
diwujudkan melalui teknologi tradisional maupun teknologi modern.
4.2 Penggunaan EM5 sebagai Pestisida Organik
Di alam, serangga dapat dipisahkan menjadi dua golongan
berdasarkan sifat-sifatnya, yaitu serangga bersifat sebagai hama/parasit dan serangga
pencegah hama/predator. Pada serangga pencegah hama (predator) secara alami ia
memangsa serangga-serangga hama. Dia bisa demikian karena di dalam tubuhnya ada
zat antioksidan.
Pada serangga pencegah hama, bila terkena semprotan EM5
justru zat antioksidan ini akan menjadi lebih aktif dan kuat. Namun sebaliknya
pada serangga hama yang terkena semprotan EM5, maka badannya menjadi
keriput/kisut/berkerut, kemudian tidak mau makan dan akhirnya mati. Jika serangga
hama tetap makan tanaman yang disemprot EM5 berarti juga makan zat antioksidan,
maka pertumbuhannya menjadi terhambat/kurang. Bahaya serangan serangga hama
akut tetap terhindar.
Pembuatan EM5 dapat dicampur dengan bahan rempah-rempah
(jahe, kunyit, kencur, sereh, dan sebagainya) untuk memberi aroma khusus. EM5
yang dicampur dengan ekstrak rempah-rempah menjadi lebih efektif. Penambahan
ekstrak bahan organik yang mengandung obat-obatan seperti bawang putih, merica,
lidah buaya, buah muda hasil penjarangan dan rumput-rumput muda tertentu sangat
dianjurkan. Pencampuran EM5 dengan rempah rempah jenis tertentu dengan tujuan untuk
memberikan aroma khusus yang tidak disukai serangga. Rempah-rempah dan jenis
tanaman obat juga mengandung antioksidan.
Penyemprotan EM5 dimulai sejak perkecambahan tanaman sebelum
hama menyerang. Namun perlu diperhatikan, biasanya tanaman tertentu tidak tahan
daunnya disemprot dengan campuran yang mengandung alkohol. Daun muda biasanya
akan terbakar dan pertumbuhan menjadi kurang baik, terutama bagi tanaman
semusim. Tanda-tandanya ada bintik terbakar pada daun.
4.2.1 Keuntungan dari Penggunaan EM5
Tidak
seperti pestisida kimia lainnya, penggunaan EM5 dengan dosis yang berlebihan
tidak menimbulkan efek residu. Bahkan sebaliknya semakin banyak bakteri EM5
yang kerja lembur akan meningkatkan timbulnya zat antioksidan yang berarti
semakin memperkuat daya tahan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit
tanaman. Dengan demikian penggunaan obat-obatan bagi tanaman berkurang dan justru malah tidak diperlukan
lagi, jadi jelas lebih efisien.
Keunggulan
EM5 yang lain adalah bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Bahan-bahan
terebut ekonomis dan mudah didapat. Pertama EM4, kini EM4 sudah banyak beredar di pasaran,
sehingga produk tersebut tidak sulit didapat. Harganya pun relatif terjangkau. Demikian
pula cuka makan dan alkohol, semuanya tidak terlalu sulit untuk didapat.
Begitu
juga rempah-rempah seperti jahe, lengkuas, kencur, kunyit, sereh, bawang putih,
dan sebagainya. Semuanya mudah didapat, mengingat Indonesia adalah negara yang
kaya akan rempah-rempahnya.
Limbah
pabrik dan rumah tangga yang sudah tidak digunakan pun menjadi bermanfaat dalam
pembuatan EM5 ini. Seperti molase dan air cucian beras. Molase adalah gula
tetes limbah dari pabrik gula yang merupakan sisa proses pengkristalan gula
pasir. Molase ternyata memiliki kandungan zat yang berguna. Zat-zat tersebut
antara lain kalsium, magnesium, potasium, dan besi. Black strap memiliki
kandungan kalori yang cukup tinggi, karena terdiri dari glukosa dan fruktosa.
Berbagai vitamin terkandung pula di dalamnya.
Air cucian beras merupakan suatu limbah yang dihasilkan
oleh kegiatan rumah tangga. Namun tetapi air cucian beras dapat dimanfaatkan, karena
air cucian beras mengandung glukosa sebesar 21,89%, kandungan karbohidrat 19,70%
(Ari Fatmawati, 2008).
Jadi, dapat diketahui bahwa penggunaan EM5 sebagai
pestisida organik lebih efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan dibanding
pestisida kimia.
4.2.2 Upaya Mengatasi Pencemaran
Lingkungan yang Disebabakan oleh Pestisida Kimia dengan EM5
Pencemaran pestisida dapat terjadi bila pestisida digunakan
secara berlebihan. Tanah di sekitar tanaman akan tercemar dan membunuh makhluk
kecil dalam tanah. Akibatnya tanah menjadi keras dan tandus.
Pencemaran
air oleh pestisida terjadi melalui aliran air dari tempat kegiatan manusia yang
menggunakan pestisida dalam rangka memperbanyak produksi pertanian. Kadar
pestisida dalam air yang tinggi dapat membunuh organisme air antara lain ikan
dan udang. Pada kadar yang rendah pestisida dalam air meracuni organisme kecil.
Organisme kecil yang telah teracuni oleh pestisida itu, kemudian dimakan oleh
ikan dan udang. Akibatnya ikan dan udang mengalami dua kali keracunan yaitu
melalui insangnya dan melalui makanannya. Selanjutnya ikan dan udang yang
keracunan itu ditangkap dan dimakan oleh manusia. Dengan demikian, manusia juga
akan keracunan pestisida.
Dampak pada pertanian terutama perubahan metabolisme
tanaman yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan hasil pertanian. Hal ini
dapat menyebabkan dampak lanjutan pada konservasi tanaman di mana tanaman tidak
mampu menahan lapisan tanah dari erosi. Beberapa bahan pencemar ini memiliki
waktu paruh yang panjang dan pada kasus lain bahan-bahan kimia derivatif akan
terbentuk dari bahan pencemar tanah utama.
EM5 adalah alah satu pestisida organik yang dalam
pembuatannya menggunakan teknologi EM4. Teknologi EM4 adalah teknologi budidaya
pertanian untuk meningkatkan kesehatan serta kesuburan tanah dan tanaman,
dengan menggunakan mikroorganisme yang bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman.
Mikroorganisme yang terkandung dalam EM5 dapat memfermentasi
bahan organik tanah menjadi senyawa organik yang mudah diserap oleh akar
tanaman. Mikroorganisme tersebut tidak mencemari tanah dan air di sekitar
tanaman. Bahkan beberapa mikroorganisme tersebut bermanfaat bagi kesuburan
tanah dan produktivitas tanaman.
Komposisi EM5 yang lain juga berasal dari alam
seperti daun mimba, sereh, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kencur,
kunyit, dan brotowali, sehingga EM5 aman bagi lingkungan. Bahan-bahan alami tersebut
mengalami degredasi atau penguraian yang cepat dibanding zat kimia yang
terdapat pada pestisida sintesis.
Beberapa bahan dalam pembuatan EM5 pun ada yang
berupa limbah, seperti molase yang merupakan limbah pabrik gula dan air cucian
beras yang termasuk limbah rumah tangga. Pemanfaatan kembali limbah tersebut
tentu dapat mengurangi pencemaran lingkungan.
Cara kerja EM5 pun selektif hanya pada serangga yang
merupakan hama tanaman. Serangga pencegah hama atau musuh alami hama tersebut
tidak ikut terbunuh jika terkena semprotan EM5. Ekosistem pun tidak terganggu
dengan adanya penyemprotan tanaman oleh EM5.
BAB V
PENUTUP
5.1 Simpulan
Berdasarkan
permasalahan dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa upaya mengatasi
masalah lingkungan oleh penggunaan pestisida kimia yang sulit terdegradasi secara
alami salah satunya dengan menyubtitusi penggunaan penggunaam pestisidia kimia
dengan pestisida organik.
Keuntungan
yang dapat diperoleh dari penggunaan EM5 sebagai pestisida organik adalah :
·
Tidak menimbulkan efek residu, sehingga
tidak berbahaya bagi lingkungan.
- Selektivitas tinggi (hanya berfungsi pada hama penyerang).
- Bermanfaat bagi kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.
·
Dapat mengatasi masalah pencemaran lingkungan
oleh pestisida kimia.
·
Mudah dipraktekkan dan ekonomis.
5.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dan simpulan, dapat diberikan beberapa saran sebagai
berikut :
·
Diharapkan agar masyarakat, khususnya
petani berinisiatif untuk meggunakan pestisida organik sebagai bahan subtitusi pestisida
kimia.
·
Di masa yang akan datang diharapkan penggunaan
pestisida akan berkurang dan lebih selektif, serta didukung oleh adanya
penemuan-penemuan baru yang lebih efektif dalam mengatasi gangguan dari jasad
pengganggu tanaman.
Gambar beberapa bahan yang digunakan dalam pemembuatan EM5
| EM 4 |
| Rempah-rempah |
| Daun mimba |
| Daun brotowali |
| Molase |
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
