Pages

Thursday, September 12, 2019

Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Kota Batu

              Kota Batu merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Timur dengan letak astronomis antara 122°17’ sampai dengan 122°57’ Bujur Timur dan 7°44’ sampai dengan 8°26’ Lintang Selatan. Kota Batu terletak pada ketinggian rata-rata 862 m di atas permukaan laut. Dilihat dari ketinggian wilayahnya, sebagian besar daerah di Kota Batu terletak di daerah perbukitan atau lereng. Secara morfologi, Kota Batu didominasi oleh wilayah dengan topografi pegunungan dan perbukitan. Ketinggian wilayah mencapai 700-2000 mdpl dengan suhu udara rata-rata mencapai 11-19 derajat Celsius (BPS Kota Batu, 2018).
             Kota Batu memiliki sumber mata air sejumlah 111 titik, dengan debit mata air dalam kondisi normal sebanyak 44 titik atau 39,64 %, debit mata air dalam kondisi sedang sebanyak 28 titik atau 25,22 % dan dalam kondisi rendah sebanyak 39 atau 35,13 %. Dari sumber tersebut kurang lebih menghasilkan rata–rata 16.950.600m3/tahun dan yang dimanfaatkan oleh PDAM sebesar 2.168.148 m3/tahun atau hanya 13%, sedangkan sisanya dipakai pengairan pertanian dan juga terbuang ke sungai. Ketersediaan sumber-sumber mata air cukup potensial, dimana mata air tersebut dikonsumsi oleh masyarakat Kota Batu maupun wilayah sekitarnya, seperti wilayah Malang Raya (Bappeda Kota Batu, 2007).
             Kota Batu memiliki 4 jenis tanah, yaitu andosol, kambisol, alluvial dan latosol. Jenis tanah andosol cokelat merupakan tanah yang terbentuk dari abu dan tufa vulkanik yang menepati punggung gunung atau puncak gunung serta banyak terdapat di Kecamatan Bumiaji. Jenis tanah Andosol, berupa lahan tanah yang paling subur meliputi Kecamatan Batu seluas 1.831,04 ha, Kecamatan Junrejo seluas 1.526,19 ha dan Kecamatan Bumiaji seluas 2.873,89 ha. Jenis tanah Kambisol, berupa jenis tanah yang cukup subur meliputi Kecamatan Batu seluas 889,31 ha, Kecamatan Junrejo 741,25 ha dan Kecamatan Bumiaji 1395,81 ha. Jenis tanah alluvial, berupa tanah yang kurang subur dan mengandung kapur meliputi Kecamatan Batu seluas 239,86 ha, Kecamatan Junrejo 199,93 ha dan Kecamatan Bumiaji 376,48 ha. Jenis tanah Latosol meliputi Batu seluas 260,34 ha, Kecamatan Junrejo 217,00 ha dan Kecamatan Bumiaji 408,61 ha (Bappeda Kota Batu, 2007).
              Luas lahan sawah di Kota Batu tahun 2017 sebesar 2.441,69 Ha, yang terdiri dari 716,23 Ha berada di Kecamatan Batu, 1.042 Ha di Kecamatan Junrejo dan sisanya 683,46 Ha di Kecamatan Bumiaji. Jenis penggunaan lahan paling besar di Kota Batu yaitu tegal atau kebun sedangkan penggunaan lahan terendah yaitu perkebunan, ladang, pohon atau hutan rakyat, padang rumput dan lain-lain. Salah satu penggunaan lahan yang ada di Kota Batu yaitu hutan, hutan yang ada di Kota Batu dibedakan menjadi tiga jenis diantaranya adalah hutan lindung, hutan konservasi dan hutan produksi. Kemudian kawasan pertanian dibedakan menjadi pertanian lahan basah dan pertanian lahan kering. Rata-rata lahan yang mengalami penurunan luas yaitu hutan lindung dan kawasan budidaya yaitu kawasan hutan produksi, kawasan pertanian, dan perkebunan sedangkan lahan yang mengalami penambahan luas yaitu kawasan perumahan dan kawasan industri (Bappeda Kota Batu, 2007).
             Berdasarkan karakteristik fisik tersebut, Kota Batu memiliki potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang besar, khususunya melalui sektor pertanian. Faktor abiotik seperti iklim dan cuaca, tanah, serta hidrologi Kota Batu sangat sesuai untuk kegiatan pertanian. Lahan sawah yang cukup melimpah berpengaruh pada tingkat produksi hasil pertanian. Pertanian di Kota Batu didominasi oleh pertanian hortikultura, sedangkan pertanian tanaman pangan kurang dominan. Diantara beberapa macam sayuran yang dibudidayakan di Kota Batu, yang paling dominan adalah kentang, wortel, kobis, dan daun bawang. Sementara, tanaman buah yang dominan adalah apel dan jeruk. Produksi apel di Kota Batu merupakan terbesar di Jawa Timur, bahkan apel dijadikan sebagai ikon di Kota Batu. Produksi tanaman hias juga tidak kalah dengan tanaman sayuran dan buah. Diantara jenis tanaman hias yang paling banyak dikembangkan adalah mawar, krisan, anturium, dan anggrek.
             Peternakan sebagai salah satu sektor pertanian juga menjadi salah satu sumber mata pencaharian di Kota Batu. Hewan ternak yang ada di Kota Batu dibedakan menjadi ternak besar dan ternak kecil. Ternak besar terdiri dari kuda, sapi potong, sapi perah dan kerbau. Jumlah hewan ternak besar yang paling banyak yaitu sapi perah bisa mencapai 11950 ekor, sedangkan jumlah ternak paling sedikit yaitu kerbau yang hanya berjumlah 10 ekor ditahun 2017. Terdapat beberapa jenis tenak kecil yang ada di Kota Batu diantaranya yaitu kambing, domba, babi, kelinci, ayam buras, ayam petelur, ayam pedaging, itik, dan burung dara. Jumlah hewan ternak kecil yang paling banyak di Kota Batu yaitu ayam petelur dengan jumlah 143300 ekor dan ayam pedaging sebanyak 132000 ekor. Sedangkan ternak kecil yang memiliki populasi paling rendah yaitu burung dara yang hanya 175 ekor (Bappeda Kota Batu, 2007).
             Selain  sebagai kota agropolitan, Kota Batu juga terkenal sebagai kota wisata. Terdapat hampir 30 total objek wisata yang ada di Kota Batu, mulai dari wisata alam hingga wisata buatan. Atraksi wisata berupa pemandangan alam, kesejukan udara, dan agrowisata adalah potensi wisata besar yang dimiliki Kota Batu. Agrowisata  hendaknya dapat dijadikan wisata utama di Kota Batu, mengingat hal tersebut disokong oleh karakter fisik khas Kota Batu yang jarang ditemui di daerah lain. Selain itu, agrowisata dapat meningkatan perekonomian pedesaan.
Potensi bencana yang ada di Kota Batu tidaklah terlalu besar. Gunung Panderman dan Arjuno yang mengelilingi Kota Batu bukanlah gunung api aktif. Wilayah Kota Batu juga jauh dari laut, sehingga risiko dan atau dampak bencana yang ditimbulkan oleh keduanya hampir tidak mungkin terjadi di Kota Batu. Potensi bencana yang mungkin terjadi adalah erosi dan longsor. Hal tersebut dapat terjadi terutama di daerah dengan kemiringan tinggi, seperti di Desa Sumber Brantas yang lahan miringnya dijadikan lahan pertanian. Potensi bencana lainnya adalah terjadinya kekeringan. Berdasarkan data dan wawancara yang pernah dilakukan, banyak sumber mata air di Batu yang berkurang debitnya, bahkan tidak mengalir sama sekali. Penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan untuk pembangunan permukiman, tempat wisata, akomodasi wisata seperti hotel dan penginapan, serta bangunan lainnya. Upaya konservasi sumber mata air tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah sebab banyak titik mata air yang berada di tanah pribadi warga.
             Aktifnya kegiatan pertanian, selain menjadi roda ekonomi warga Kota Batu, juga menimbulkan potensi pencemaran. Pencemaran dari sektor pertanian tersebut berupa residu pestisida, pupuk, dan limbah produksi pertanian. Limbah tersebut dapat mencemari tanah, air, dan udara di Kota Batu. Meski sejauh ini belum ada dampak pencemaran yang siginifikan, jika hal tersebut dibiarkan akan terjadi akumulasi polutan yang berbahaya bagi tubuh dan lingkungan di kemudian hari.
             Tiap desa di Kota Batu memiliki potensi sumberdaya alam dan komoditas utama pertanian masing-masing, semisal Desa Sidomulyo dengan tanaman hiasnya, Desa Bumiaji sebagai dengan apelnya, Desa Tlekung dengan jeruknya, Desa Sumber Brantas dengan kentangnya, Desa Torongrejo dengan daun bawangnya, Desa Sumberejo dengan sapi perahnya. Keragaman komoditas tersebut hendaknya bisa dijadikan produk andalan, baik tanpa maupun dengan pengolahan, hingga dapat menjadikan tiap desa berdaya dan berdikari, khususnya secara ekonomi, melalui sektor pertanian yang menjadi aset utama bagi desa-desa di Kota Batu.
             Strategi pengelolaan potensi sumber daya alam di Kota Batu adalah melalui pemberdayaan masyarakat desa, khususnya dalam bidang pertanian. Pengelolan sumber daya alam yang tepat dan optimal akan menggerakkan pembangunan. Konsep desa membangun berbeda dengan membangun desa. Desa membangun memiliki arti bahwa desa mempunyai kemandirian dalam membangun dirinya. Desa hendaknya dijadikan pondasi pembangunan nasional. Pembangunan bukan lagi dari atas ke bawah (top down) melainkan berangkat dari bawah (bottom up). Sudah seharusnya pembangunan menjadikan desa sebagai subyek, bukan obyek. Indeks ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pembangunan Kota Batu harus diintegralkan, agar kesejahteraan atas ketiganya dapat tercapai. Sekali lagi, lokalitas hendaknya dijadikan dasar dan titik awal pembangunan.
            Pendekatan atau manajemen partisipasif dapat dilakukan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya untuk pembangunan Kota Batu. Peran pemerintah adalah mengedukasi, mendampingi, dan mengevaluasi kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang dilakukan masyarakat. Edukasi diperlukan agar sumber daya manusia dapat mengelola sumber daya alam dengan optimal dan berkelanjutan. Edukasi dan pendampingan yang dapat dilakukan pemerintah Kota Batu di antaranya perihal pertanian organik dan pariwisata (terutama agrowisata) yang berkelanjutan. Pertanian sebagai potensi utama Kota Batu harus dipertahankan dan dikembangkan. Pemeliharaan dan pengelolaan sumber daya alam yang tepat harus dilakukan agar cita-cita pembangunan berkelanjutan dapat tercapai.

Daftar Pustaka
Bappeda Kota Batu. 2007. Profil Wilayah Kota Batu. Kota Batu: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.
            BPS Kota Batu. 2018. Statistik Daerah Kota Batu 2018. Batu: Badan Pusat Statistik Kota Batu.

Sunday, June 26, 2016

MENUNGGU BAPAK

Ketika kami ditanya, siapa orang yang paling kalian sayang?
Jawaban kami pastilah sama: Bapak.
***
Ketiga pasang mata itu menajamkan pandangan ke arah laut di depannya. Namun yang sejak tadi ditunggu belum juga tampak. Sesekali, enam mata itu memilih untuk memandangi Pulau Mandalika demi mengusir bosan.
“Bapak pulang! Itu kapal bapak! Bapak pulang!” Nilam tersentak dengan teriaknnya sendiri. Seketika ia berdiri sambil membersihkan pasir pantai yang menempel pada rok merahnya.
“Horeeee! Bapak pulang! Bapak pulang!” teriak Bayu tak kalah senang. Sementara Adi, si bungsu, hanya melompat-lompat kegirangan mengikuti tingkah kedua kakaknya.
Suara azan zuhur mengiringi kedatangan perahu yang sejak tadi mereka tunggu. Bendera merah putih ditambah bendera jingga milik salah satu partai politik itu semakin terlihat jelas berkibar di ujung tiang, meyakinkan Nilam dan dua adiknya bahwa bapak mereka akan secepatnya tiba di daratan. Dan, seperti biasa, mereka telah siap memeluk tubuh sang bapak yang beraroma matahari dan peluh, wangi yang mereka tunggu tiap harinya.
Empat nelayan dalam perahu itu turun satu persatu. Masing-masing  mengatur posisi untuk mendorong perahu agar mencapai bibir pantai. Bayu pun dengan sigap membantu nelayan-nelayan itu menambatkan perahu di pantai. Setelah segala pekerjaan menepikan perahu itu rampung, Nilam dan kedua adiknya berlari ke arah Rujiman, sang bapak. Bergantian, ketiganya mencium tangan bapak kesayangan mereka. Pria paruh baya itu pun mengelus rambut mereka, lalu mencium kening mereka satu persatu.
“Ayo Man, cukup temu kangennya.” ujar salah satu teman Rujiman yang  bertubuh jangkung. Ia nampak keberatan menurunkan beberapa kotak yang berisi ikan-ikan tangkapan mereka.
“Iya Srun, iya, tunggu sebentar.” Rujiman mengerti maksud dari perkataan temannya tadi. Ia pun tersenyum dan memberi anggukan kecil pada Nilam dan kedua adiknya, mengisyaratakan mereka untuk kembali ke rumah.
Tangkapan hari ini lebih sedikit daripada kemarin. Kondisi laut utara Jawa yang kian keruh telah menghalau ikan-ikan ke tempat yang lebih jauh, semakin sulit dijangkau perahu-perahu kecil nelayan, dan tentunya banyak membuang solar yang harganya makin mahal.
Keempat nelayan itu tiba di TPI1 Ujungwatu. Rujiman dan ketiga temannya  menghampiri seorang pria bertubuh tinggi besar yang menjadi pelanggan tetap untuk hasil tangkapan mereka. Kali ini, pria itu memakai kaos pemberian salah satu caleg yang beberapa minggu lalu berkampanye di Desa Ujungwatu. Topi baretnya yang sudah jebol disana-sini plus kepulan asap rokok dari mulutnya selalu menyambut Rujiman dan nelayan-nelayan lain saat mendatanginya.
“Oke, kerapu tujuh basket, kakap putih lima basket, gerabah dua basket, sembilang satu basket. Jadi totalnya dua ratus enam puluh ribu yo Pak?” pria itu nampak sibuk menghitung keranjang-keranjang kotak milik Rujiman dan temannya.
Waduh, Mbok yo ditambah lagi Pak Nar…” Rujiman memohon pada pria itu. Terbayang olehnya separuh hasil pendapatannya akan diberikan pada juragan darat2 pemilik perahu, sementara separuhnya lagi harus dibagi rata pada ketiga temannya. Itu pun belum termasuk ongkos solar yang harus dibeli untuk menggerakkan perahunya.
Setelah tawar menawar yang cukup lama, pria besar itu yang memberikan tiga lembar uang seratusribuan dari kantong celananya. Rujiman dan teman-temannya tahu, uang itu akan berlipat ganda di tangan penjual ikan di pasar. Tapi, apa lagi yang bisa mereka lakukan selain pasrah dan berharap agar pemerintah mampu memperbaiki nasib mereka?
***
Nilam keluar dari gorden merah hati yang dijadikan pembatas antara ruang tamu dan dapur. Ia membawa sebakul nasi dan sepisin sambal terasi. Di belakangnya, Bayu membantu membawakan piring berisi empat ikan sembilang goreng, sisa hasil tangkapan bapaknya kemarin. Adi mengekor di belakang Bayu. Tugasnya membawakan rantang berisi air kobokan.
“Ayo Pak, monggo, dimakan dulu” ujar Nilam lembut.
 “Oh, iya iya, ayo, kita makan sama-sama. Pasti kalian juga lapar to?”
Nilam dan kedua adiknya mengangguk. Lalu bergantian mengambil nasi dalam bakul, satu ikan sembilang goreng, dan sedikit sambal dari pisin.
Nasihat Rujiman untuk tidak berbicara saat makan benar-benar dilaksanakan dengan baik oleh Nilam dan adik-adiknya. Ruangan tak berubin itu hening. Hanya terdengar kecapan lidah dalam mulut yang tertutup, diselingi suara-suara yang menahan pedas. Namun, 15 menit setelah keheningan yang diupayakan itu, suasana di ruang multifungsi itu terdengar hidup. Sesekali terdengar tawa lepas Rujiman saat mendengar hal lucu yang keluar dari mulut Adi.
Dalam tawa yang terjeda cukup panjang, Rujiman menatap Adi. Umurnya tujuh tahun. Sebenarnya ia sudah masuk usia sekolah. Namun, lagi-lagi masalah biaya. Rujiman sudah terlalu sering meminjam uang kesana-sini untuk menyekolahkan kedua kakaknya. Mau tak mau, ia harus menjadikan Adi sebagai tumbal agar beban ekonomi  keluarganya tidak bertambah berat.
Rujiman merasa tak sanggup lagi menyatukan realita dan harapan. Baginya, itu adalah sumber penyakit. Dan ia memilih untuk tidak sakit. Mau tak mau, Adi tidak ia sekolahkan. Namun Rujiman berjanji akan mendidik Adi agar menjadi nelayan yang sukses, nelayan yang tangguh, nelayan yang punya perahu sendiri.
“Pak, Nilam tanya ya Pak? Tadi di sekolah,  Nilam dijelaskan Bu Muji tentang wilayah Indonesia. Negara kita itu kan Negara agraris dan maritim, tapi kenapa petani dan nelayan di negeri kita tetap miskin, Pak?” tiba-tiba Nilam membuyarkan lamunan Rujiman. Jeda dalam di ruangan itu kembali terisi.
Rujiman kebingunan menjawab pertanyaan putrinya. Ia kembali dihadapkan pada realita, yang jawaban atas segala pertanyaannya takkan seindah apa yang ia mau. Rujiman terdiam. Rasanya ia ingin menyalahkan pemerintah, namun Rujiman sadar akan dirinya yang tidak mengenyam pendidikan apapun. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain pasrah dan berharap agar pemerintah mampu mensejahterakan kehidupannya?
 “Bapak gak tau jawabannya Nduk. Itu tugas kamu, Bayu, juga Adi untuk memperbaiki nasib mereka. Kelak, jadilah orang hebat.”
Nggih, Pak. Doakan Nilam ya, Pak. Nilam mau jadi presiden!”
“Aku juga pak, aku juga… Bayu mau jadi presiden!” Bayu semangat menimpali.
“Adi juga mau jadi presiden, Pak. Presiden yang bisa berubah jadi satria baja hitam !” Adi tak mau kalah.
“Hahaha… Kalian anak-anak bapak yang hebat. Tapi hebat itu tak harus jadi presiden, Lam, Yu, Di… Orang hebat itu orang yang bisa memperbaiki keadaan negara, banyak maupun sedikit. Jadilah orang yang bermanfaat buat orang lain yo Nduk, Le… ” Rujiman mengakhiri percakapan kecil di ruangan ---- yang juga kecil itu dengan harapan. Harapan yang besar untuk masa depan, untuk anak-anaknya.
Entah mengapa, makan siang hari itu terasa amat nikmat bagi mereka, berbeda dari biasanya.
***
Terik matahari masih membakar daun-daun bakau yang dilewati Bayu dan Adi dalam perjalannya menuju bibir pantai. Seperti biasa, mereka akan menjemput Rujiman sekaligus melakukan segala ‘ritual’ penyambutan bapak mereka. Namun kali ini mereka pergi tanpa Nilam. Keduanya berjalan sedikit terburu-buru dan nampak gelisah.
Keempat mata milik keduanya pun menatapi Pulau Mandalika yang ada di sebelah utara. Pulau kecil yang membuat mereka dan Nilam berkali-kali memuji kebesaran Tuhan. Pulau yang selama ini mereka jadikan hiburan saat mata mereka bosan menanti kedatangan perahu sang bapak.
Bayu dan Adi sudah selesai bermain pasir pantai dan berburu cangkang kerang. Namun perahu bapak mereka belum juga nampak. Mereka pun semakin cemas, terlebih Bayu. Sebentar-sebentar ia berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di bibir pantai.
Akhirnya, setelah satu jam sejak kedatangan Bayu dan Adi di tempat itu, kapal bapak mereka mulai nampak di kejauhan. Semakin lama, perahu yang memiliki panjang 6,5 meter dan lebar 2,5 meter itu kian mendekat, dan akhirnya menepi. Bayu dan Adi tak sabar menunggu bapak mereka turun. Keduanya pun berlari menghampiri Rujiman.
“Pak, Mbak Nilam Pak!”
Rujiman baru sadar jika Nilam tidak ada disana. Senyum Rujiman perlahan meredup, kemudian hilang samasekali. Cepat-cepat ia turun dari perahu.
“Loh, mbakmu  mana le? Mbak Nilam kenapa?” tanyanya khawatir.
“Mbak Nilam berdarah Pak. Mbak Nilam nangis terus daritadi.”
Cepat-cepat Rujiman menurunkan hasil keranjang-keranjang berisi ikan dari dalam perahu. Lalu, Rujiman mengatakan pada ketiga temannya bahwa ia tidak ikut membawa ikan-ikan penghasil uang itu ke TPI. Setelah meminta maaf dan berterimaksih pada ketiga temannya, buru-buru Rujiman mengajak kedua putranya pulang ke rumah.
***
Di dalam kamar, Nilam menangis sesenggukan. Ia terduduk di salah satu ujung kamar, menenggelamkan wajahnya dalam kedua telapak tangannya yang mungil.
“Nilam, kamu kenapa? Kata Bayu kamu berdarah? Kamu habis jatuh, Nduk? Dimana? Mana yang sakit?” Rujiman tergopoh-gopoh masuk ke kamar. Kekhawatirannya semakin memuncak.
Nilam tak menjawab, malah suara tangisnya semakin keras. Bapak mendekatinya, namun Nilam justru menjauh.
“Kamu kenapa? Kaki atau tangan yang berdarah? Cerita Nduk sama Bapak, Bapak gak ngerti kalo kamu diam saja.”
 “Pak…” ucap Nilam akhirnya.
“Iya Nduk? Kamu kenapa?”
“Sepertinya Nilam menstruasi, Pak…”. “Bagaimana ini Pak? Nilam takut…” lanjutnya. Tangisnya semakin keras.
Ada perasaan lega dan bingung yang bercampur dalam diri Rujiman. Entah mengapa, tiba-tiba saja Rujiman merasakan rindu pada sosok Lastri. Seketika ingatan itu menyeruak kembali. Menjalar dari otak, mengalir bersama darah, hingga hatinya. Perih. Lastri. Istri yang amat dicintainya, istri yang meninggalkannya saat paceklik dating lima tahun yang lalu, istri yang saat ini benar-benar ia butuhkan untuk Nilam. “Ah, andai kau ada disini…” batin Rujiman.
 “Sudah Nduk. Menstruasi itu tidak bahaya kok. Menstruasi itu baik untuk wanita.” Rujiman asal menerangkan. “Kamu disini saja nduk, biar bapak belikan pembalut di warungnya Mbak Lis.”
“Iya Pak, Maaf ya, Nilam sudah ngrepoti Bapak.”
Sambil menahan perutnya yang sakit, berkali-kali Nilam mengucap syukur atas anugerah Tuhan yang ada di depannya, Rujiman. Bapak kesayangannya, bapak kesayangan adik-adiknya.
***
Musim Baratan3 telah tiba. Sejak awal Desember lalu, Syahbandar4 Jepara sudah melarang seluruh nelayan Jepara untuk pergi melaut. Musim seperti sekarang ini adalah musim yang beresiko tinggi jika para penebar jala itu memaksakan diri turun ke laut. Cuaca di laut amat membahayakan, ombaknya tinggi, anginnya kencang.
Sudah hampir satu bulan Rujiman dan nelayan-nelayan lain di Ujungwatu tidak melaut. Sementara di masing-masing rumah mereka, persediaan beras semakin menipis, kebutuhan lain semakin menumpuk. Tak heran, toko emas di kota kian ramai kedatangan para istri-istri nelayan yang menggadaikan perhiasan demi membantu perekonomian keluarga.
Esok, Nilam dan Bayu akan menerima rapor. Sama seperti yang dulu-dulu, uang pembayaran sekolah yang lunas menjadi syaratnya. Seharian Rujiman memikirkan hal itu. Para juragan darat tak mau dihutangi karena mereka pun tengah menggunakan timbunan uangnya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Para nelayan di desa itu memang sedang mengalami musim paceklik yang cukup parah.
Memang, tiga hari terakhir ini cuaca di pantai utara Jawa mulai membaik. Sore itu, langit sedang cerah. Ketinggian ombak juga menurun. Ba’da ashar, tiga perahu nelayan desa Ujungwatu sudah bersiap-siap pergi melaut ---- saat hari biasa, mereka baru pergi melaut pukul tiga pagi. Hampir seluruh nelayan dalam tiga perahu itu adalah para orang tua yang pemikirannya ‘sekarat’ sebab penerimaan rapor esok hari. Sudah tentu, Rujiman termasuk di dalamnya. Pukul 15.30. Suara mesin perahu mereka mulai terdengar. Perahu-perahu itu mulai menjauhi pantai. Bergerak menuju ke tengah laut. Membawa harapan dan doa para istri dan anak-anak nelayan yang ada di dalamnya.
Ternyata cuaca sore itu bukanlah hal yang pasti. Cuaca itu mengelabui sekaligus menyadarkan bahwa ia termasuk misteri Ilahi yang tidak dapat diprediksi. Saat tiga perahu nelayan sampai di tengah laut, gelombang air laut terlihat meninggi. Dua perahu di bagian depan berhasil melewati ombak besar tersebut. Namun tidak demikian dengan perahu yang ditumpangi Rujiman dan empat nelayan lainnya. Awalnya, gelombang besar dari arah samping bisa mereka lewati. Namun, kemudian datang lagi dari arah depan, menerjang perahu mereka hingga terbalik. Rujiman yang berada di bagian depan perahu pun terpental ke samping. Lalu, ia tercebur ke dalam air. Sekuat tenaga, Rujiman berusaha berpegangan ke badan kapal yang sudah terbalik agar tidak tenggelam. Namun, tak  lama, ombak besar kembali datang dan menggulung tubuhnya. Kemudian, semuanya terasa gelap bagi Rujiman.
***
Pukul tujuh pagi. Nilam, Bayu, dan Adi masih belum beranjak dari duduknya di bibir pantai. Menunggu sang bapak yang berjanji pulang dini hari. Sang bapak yang berjanji mengambil rapor pukul sembilan hari ini. Mereka belum tahu, yang mereka tunggu tak akan pernah pulang…



1 Pasar yang biasanya terletak di dalam pelabuhan / pangkalan pendaratan ikan, dan di tempat tersebut terjadi transaksi penjualan ikan/hasil laut baik secara lelang maupun tidak
2 Pemilik perahu yang mempekerjakan nelayan lain, tanppa ikut bekerja turun ke laut
3 Musim saat curah hujan bertambah banyak, gelombang air laut tinggi, dan angin kencang di lautan dari arah barat

4 Pegawai negeri yg mengepalai urusan pelabuhan; kepala pelabuhan

Monday, August 19, 2013

Payung Teduh - Mari Bercerita

 Liriknya tetap indah dan bersahaja, seperti musiknya...

 Mari Bercerita

Seperti yang biasa kau lakukan
Di tengah perbincangan kita
Tiba-tiba kau terdiam
Sementara ku sibuk menerka
Apa yang ada dipikiranmu
Sesungguhnya berbicara denganmu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita
Mungkin tentang ikan paus di laut
Atau mungkin tentang bunga padi di sawah
Sungguh bicara denganmu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita
Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja
Malam jangan berlalu
Jangan datang dulu terang
Telah lama kutunggu
Kuingin berdua denganmu
Biar pagi datang setelah aku memanggil, terang...
Hai pencuri kau, terang...
Sungguh berbicara denganmu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita
Mungkin tentang ikan paus di laut
Atau mungkin tentang bunga padi di sawah
Sungguh bicara denganmu
Tentang segala hal yang bukan tentang kita
Selalu bisa membuat semua lebih bersahaja
Malam jangan berlalu
Jangan datang dulu terang
Telah lama kutunggu
Kuingin berdua denganmu
Biar pagi datang setelah aku memanggil, terang...
Malam jangan berlalu
Jangan datang dulu terang
Telah lama kutunggu
Kuingin berdua denganmu
Biar pagi datang setelah aku memanggil, terang...
Hai pencuri kau, terang... 


Yang belum tahu lagunya, ini ada video yang saya ambil dari youtube hehe
 


Friday, July 5, 2013

Alam Menyediakan Segalanya

Alam yang luas, semesta yang tak terjangkau, seluruh hidup untuk makhluk yang hidup.
Alam memberi pertanyaan sekaligus jawaban untuk kita. Meski banyak yang sembunyi dan tetap menjadi misteri. Alam itu tabib, menyediakan segala ramuan untuk raga yang sakit maupun yang ingin terhindar dari sakit. Berikut beberapa 'ramuan' alam demi menjaga kesehatan raga kita yang hidup.
  • Air Putih
         Salah satu dari empat unsur utama di bumi ini sangat banyak khasiatnya. Mulai dari melancarkan pencernaan makanan, menjaga fungsi kerja ginjal, merawat kecantikan wajah dan kulit, menyembuhkan dan mencegah berbagai penyakit, dapat dilakukan dengan minum air putih yang cukup.
         Air putih baik diminum setelah bangun tidur, sebelum tidur, dan setengah jam sesudah makan. Sehabis makan jangan langsung minum air putih dalam jumlah banyak, cukup seteguk dua teguk saja demi mengusir haus. Volume air yang banyak dapat mengencerkan konsentrasi HCl yang diperlukan dalam proses pencernaan.
    Yuk, minum air putih minimal 8 gelas air perhari demi kesehatan hari ini, esok, dan seterusnya :)

    to be continue...
 

GITA HARSAYA Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos