Ketika
kami ditanya, siapa orang yang paling kalian sayang?
Jawaban
kami pastilah sama:
Bapak.
***
Ketiga pasang mata itu menajamkan
pandangan ke arah laut di depannya. Namun yang sejak tadi ditunggu belum juga tampak.
Sesekali, enam mata itu memilih untuk memandangi Pulau Mandalika demi mengusir
bosan.
“Bapak pulang! Itu kapal bapak! Bapak
pulang!” Nilam tersentak dengan teriaknnya sendiri. Seketika ia berdiri sambil membersihkan
pasir pantai yang menempel pada rok merahnya.
“Horeeee! Bapak pulang! Bapak pulang!”
teriak Bayu tak kalah senang. Sementara Adi, si bungsu, hanya melompat-lompat kegirangan
mengikuti tingkah kedua kakaknya.
Suara azan zuhur mengiringi kedatangan perahu
yang sejak tadi mereka tunggu. Bendera merah putih ditambah bendera jingga
milik salah satu partai politik itu semakin terlihat jelas berkibar di ujung
tiang, meyakinkan Nilam dan dua adiknya bahwa bapak mereka akan secepatnya tiba
di daratan. Dan, seperti biasa, mereka telah siap memeluk tubuh sang bapak yang
beraroma matahari dan peluh, wangi yang mereka tunggu
tiap harinya.
Empat nelayan dalam perahu itu turun
satu persatu. Masing-masing mengatur
posisi untuk mendorong perahu agar mencapai bibir pantai. Bayu pun dengan sigap
membantu nelayan-nelayan itu menambatkan perahu di pantai. Setelah segala
pekerjaan menepikan perahu itu rampung, Nilam dan kedua adiknya berlari ke arah
Rujiman, sang bapak. Bergantian, ketiganya mencium tangan bapak kesayangan
mereka. Pria paruh baya itu pun mengelus rambut mereka, lalu mencium kening
mereka satu persatu.
“Ayo Man, cukup temu kangennya.” ujar salah
satu teman Rujiman yang bertubuh
jangkung. Ia nampak keberatan menurunkan beberapa kotak yang berisi ikan-ikan tangkapan
mereka.
“Iya Srun, iya, tunggu sebentar.”
Rujiman mengerti maksud dari perkataan temannya tadi. Ia pun tersenyum dan
memberi anggukan kecil pada Nilam dan kedua adiknya, mengisyaratakan mereka
untuk kembali ke rumah.
Tangkapan hari ini lebih sedikit
daripada kemarin. Kondisi laut utara Jawa yang kian keruh telah menghalau ikan-ikan
ke tempat yang lebih jauh, semakin sulit dijangkau perahu-perahu kecil nelayan,
dan tentunya banyak membuang solar yang harganya makin mahal.
Keempat nelayan itu tiba di TPI1
Ujungwatu. Rujiman dan ketiga temannya
menghampiri seorang pria bertubuh tinggi besar yang menjadi pelanggan
tetap untuk hasil tangkapan mereka. Kali ini, pria itu memakai kaos pemberian salah
satu caleg yang beberapa minggu lalu berkampanye di Desa Ujungwatu. Topi baretnya
yang sudah jebol disana-sini plus kepulan asap rokok dari mulutnya
selalu menyambut Rujiman dan nelayan-nelayan lain saat mendatanginya.
“Oke, kerapu tujuh basket, kakap putih lima
basket, gerabah
dua basket, sembilang satu
basket. Jadi totalnya dua ratus enam puluh ribu yo Pak?” pria itu nampak sibuk menghitung
keranjang-keranjang kotak milik Rujiman dan temannya.
“Waduh,
Mbok yo ditambah lagi Pak Nar…” Rujiman memohon pada pria itu. Terbayang
olehnya separuh hasil pendapatannya akan diberikan pada juragan darat2
pemilik perahu, sementara separuhnya lagi harus dibagi rata pada ketiga
temannya. Itu pun belum termasuk ongkos solar yang harus dibeli untuk menggerakkan perahunya.
Setelah tawar menawar yang cukup lama, pria
besar itu yang memberikan tiga lembar uang seratusribuan dari kantong celananya.
Rujiman dan teman-temannya tahu, uang itu akan berlipat ganda di tangan penjual
ikan di pasar. Tapi, apa lagi yang bisa mereka lakukan selain pasrah dan
berharap agar pemerintah mampu memperbaiki nasib mereka?
***
Nilam keluar dari gorden merah hati yang
dijadikan pembatas antara ruang tamu dan dapur. Ia membawa sebakul nasi dan
sepisin sambal terasi. Di belakangnya, Bayu membantu membawakan piring berisi
empat ikan sembilang goreng, sisa hasil tangkapan bapaknya kemarin. Adi
mengekor di belakang Bayu. Tugasnya membawakan rantang berisi air kobokan.
“Ayo Pak, monggo, dimakan dulu” ujar Nilam lembut.
“Oh,
iya iya, ayo, kita makan sama-sama. Pasti kalian juga lapar to?”
Nilam dan kedua adiknya mengangguk. Lalu
bergantian mengambil nasi dalam bakul, satu ikan sembilang goreng, dan sedikit
sambal dari pisin.
Nasihat Rujiman untuk tidak berbicara
saat makan benar-benar dilaksanakan dengan baik oleh Nilam dan adik-adiknya. Ruangan
tak berubin itu hening. Hanya terdengar kecapan lidah dalam mulut yang tertutup,
diselingi suara-suara yang menahan pedas. Namun, 15 menit setelah keheningan
yang diupayakan itu, suasana di ruang multifungsi itu terdengar hidup. Sesekali
terdengar tawa lepas Rujiman saat mendengar hal
lucu yang keluar dari mulut Adi.
Dalam tawa yang terjeda cukup panjang, Rujiman
menatap Adi. Umurnya tujuh tahun. Sebenarnya ia sudah masuk usia sekolah. Namun,
lagi-lagi masalah biaya. Rujiman sudah terlalu sering meminjam uang kesana-sini
untuk menyekolahkan kedua kakaknya. Mau tak mau, ia harus menjadikan Adi
sebagai tumbal agar beban ekonomi keluarganya tidak bertambah berat.
Rujiman merasa tak sanggup lagi
menyatukan realita dan harapan. Baginya, itu adalah sumber penyakit. Dan ia
memilih untuk tidak sakit. Mau tak mau, Adi tidak ia sekolahkan. Namun Rujiman berjanji
akan mendidik Adi agar menjadi nelayan yang sukses, nelayan yang tangguh,
nelayan yang punya perahu sendiri.
“Pak, Nilam tanya ya Pak? Tadi di
sekolah, Nilam dijelaskan Bu Muji tentang
wilayah Indonesia. Negara kita itu kan Negara agraris dan maritim, tapi kenapa
petani dan nelayan di negeri kita tetap miskin, Pak?” tiba-tiba Nilam
membuyarkan lamunan Rujiman. Jeda dalam di ruangan itu kembali terisi.
Rujiman kebingunan menjawab pertanyaan
putrinya. Ia kembali dihadapkan pada realita, yang jawaban atas segala
pertanyaannya takkan seindah apa yang ia mau. Rujiman terdiam. Rasanya ia ingin
menyalahkan pemerintah, namun Rujiman sadar akan dirinya yang tidak mengenyam
pendidikan apapun. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain pasrah dan berharap
agar pemerintah mampu mensejahterakan kehidupannya?
“Bapak
gak tau jawabannya Nduk. Itu tugas kamu, Bayu, juga Adi untuk
memperbaiki nasib mereka. Kelak, jadilah orang hebat.”
“Nggih,
Pak. Doakan Nilam ya, Pak. Nilam mau jadi presiden!”
“Aku juga pak, aku juga… Bayu mau jadi
presiden!” Bayu semangat menimpali.
“Adi juga mau jadi presiden, Pak. Presiden
yang bisa berubah jadi satria baja hitam !” Adi tak mau kalah.
“Hahaha… Kalian anak-anak bapak yang
hebat. Tapi hebat itu tak harus jadi presiden, Lam, Yu, Di… Orang hebat itu orang
yang bisa memperbaiki keadaan negara, banyak maupun sedikit. Jadilah orang yang
bermanfaat buat orang lain yo Nduk, Le… ” Rujiman mengakhiri
percakapan kecil di ruangan ---- yang
juga kecil itu dengan harapan. Harapan yang besar untuk masa depan, untuk anak-anaknya.
Entah mengapa, makan siang hari itu
terasa amat nikmat bagi mereka, berbeda dari biasanya.
***
Terik matahari masih membakar daun-daun bakau
yang dilewati Bayu dan Adi dalam perjalannya menuju bibir pantai. Seperti biasa,
mereka akan menjemput Rujiman sekaligus melakukan segala ‘ritual’ penyambutan
bapak mereka. Namun kali ini mereka pergi tanpa Nilam. Keduanya berjalan sedikit
terburu-buru dan nampak gelisah.
Keempat mata milik keduanya pun menatapi
Pulau Mandalika yang ada di sebelah utara. Pulau kecil yang membuat mereka dan
Nilam berkali-kali memuji kebesaran Tuhan. Pulau yang selama ini mereka jadikan
hiburan saat mata mereka bosan menanti kedatangan perahu sang bapak.
Bayu dan Adi sudah selesai bermain pasir
pantai dan berburu cangkang kerang. Namun perahu bapak mereka belum juga
nampak. Mereka pun semakin cemas, terlebih Bayu. Sebentar-sebentar ia berdiri,
lalu berjalan mondar-mandir di bibir pantai.
Akhirnya, setelah satu jam sejak
kedatangan Bayu dan Adi di tempat itu, kapal bapak mereka mulai nampak di
kejauhan. Semakin lama, perahu yang memiliki panjang 6,5 meter dan lebar 2,5
meter itu kian mendekat, dan akhirnya menepi. Bayu dan Adi tak sabar menunggu
bapak mereka turun. Keduanya pun berlari menghampiri Rujiman.
“Pak, Mbak Nilam Pak!”
Rujiman baru sadar jika Nilam tidak ada
disana. Senyum Rujiman perlahan meredup, kemudian hilang samasekali.
Cepat-cepat ia turun dari perahu.
“Loh, mbakmu mana le?
Mbak Nilam kenapa?” tanyanya khawatir.
“Mbak Nilam berdarah Pak. Mbak Nilam
nangis terus daritadi.”
Cepat-cepat Rujiman menurunkan hasil keranjang-keranjang
berisi ikan dari dalam perahu. Lalu, Rujiman mengatakan pada ketiga temannya
bahwa ia tidak ikut membawa ikan-ikan penghasil uang itu ke TPI. Setelah
meminta maaf dan berterimaksih pada ketiga temannya, buru-buru Rujiman mengajak
kedua putranya pulang ke rumah.
***
Di dalam kamar, Nilam menangis
sesenggukan. Ia terduduk di salah satu ujung kamar, menenggelamkan wajahnya
dalam kedua telapak tangannya yang mungil.
“Nilam, kamu kenapa? Kata Bayu kamu
berdarah? Kamu habis jatuh, Nduk?
Dimana? Mana yang sakit?” Rujiman tergopoh-gopoh masuk ke kamar.
Kekhawatirannya semakin memuncak.
Nilam tak menjawab, malah suara
tangisnya semakin keras. Bapak mendekatinya, namun Nilam justru menjauh.
“Kamu kenapa? Kaki atau tangan yang berdarah? Cerita
Nduk sama Bapak, Bapak gak ngerti kalo kamu diam saja.”
“Pak…”
ucap Nilam akhirnya.
“Iya Nduk?
Kamu kenapa?”
“Sepertinya Nilam menstruasi, Pak…”. “Bagaimana
ini Pak? Nilam takut…” lanjutnya. Tangisnya semakin keras.
Ada perasaan
lega dan bingung yang bercampur dalam diri Rujiman. Entah
mengapa, tiba-tiba saja Rujiman merasakan rindu pada sosok Lastri. Seketika ingatan
itu menyeruak kembali. Menjalar dari otak, mengalir bersama darah, hingga
hatinya. Perih. Lastri. Istri yang amat dicintainya, istri yang meninggalkannya saat paceklik dating lima tahun yang
lalu, istri yang saat ini benar-benar ia
butuhkan untuk Nilam. “Ah, andai kau ada disini…” batin Rujiman.
“Sudah
Nduk. Menstruasi itu tidak bahaya kok. Menstruasi itu baik untuk wanita.”
Rujiman asal menerangkan. “Kamu disini saja nduk, biar bapak belikan pembalut di
warungnya Mbak Lis.”
“Iya Pak, Maaf ya, Nilam sudah ngrepoti Bapak.”
Sambil menahan perutnya yang sakit,
berkali-kali Nilam mengucap syukur atas anugerah Tuhan yang ada di depannya,
Rujiman. Bapak kesayangannya, bapak kesayangan adik-adiknya.
***
Musim Baratan3 telah tiba. Sejak
awal Desember lalu, Syahbandar4 Jepara sudah melarang seluruh
nelayan Jepara untuk pergi melaut. Musim seperti sekarang ini adalah musim yang
beresiko tinggi jika para penebar jala itu memaksakan diri turun ke laut. Cuaca
di laut amat membahayakan, ombaknya tinggi, anginnya kencang.
Sudah hampir satu bulan Rujiman dan
nelayan-nelayan lain di Ujungwatu tidak melaut. Sementara di masing-masing rumah
mereka, persediaan beras semakin menipis, kebutuhan lain semakin menumpuk. Tak
heran, toko emas di kota kian ramai kedatangan para istri-istri nelayan yang
menggadaikan perhiasan demi membantu perekonomian keluarga.
Esok, Nilam dan Bayu akan menerima rapor.
Sama seperti yang dulu-dulu, uang pembayaran sekolah yang lunas menjadi syaratnya.
Seharian Rujiman memikirkan hal itu. Para juragan darat tak mau dihutangi
karena mereka pun tengah menggunakan timbunan uangnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Para nelayan di desa itu memang sedang mengalami musim paceklik yang cukup parah.
Memang, tiga hari terakhir ini cuaca di pantai utara
Jawa mulai membaik. Sore itu, langit sedang cerah. Ketinggian ombak juga
menurun. Ba’da ashar, tiga perahu
nelayan desa Ujungwatu sudah bersiap-siap pergi melaut ---- saat hari biasa, mereka
baru pergi melaut pukul tiga pagi. Hampir seluruh nelayan dalam tiga perahu itu
adalah para orang tua yang pemikirannya ‘sekarat’ sebab penerimaan rapor esok
hari. Sudah tentu, Rujiman termasuk di dalamnya. Pukul 15.30. Suara mesin
perahu mereka mulai terdengar. Perahu-perahu itu mulai menjauhi pantai. Bergerak
menuju ke tengah laut. Membawa harapan dan doa para istri dan anak-anak nelayan
yang ada di dalamnya.
Ternyata cuaca sore itu bukanlah hal
yang pasti. Cuaca itu mengelabui sekaligus menyadarkan bahwa ia termasuk misteri
Ilahi yang tidak dapat diprediksi. Saat tiga perahu nelayan sampai di tengah
laut, gelombang air laut terlihat meninggi. Dua perahu di bagian depan berhasil
melewati ombak besar tersebut. Namun tidak demikian dengan perahu yang
ditumpangi Rujiman dan empat nelayan lainnya. Awalnya, gelombang besar dari
arah samping bisa mereka lewati. Namun, kemudian datang lagi dari arah depan,
menerjang perahu mereka hingga terbalik. Rujiman yang berada di
bagian depan perahu pun terpental ke samping. Lalu, ia tercebur ke dalam air. Sekuat
tenaga, Rujiman berusaha berpegangan ke badan kapal yang sudah terbalik agar tidak tenggelam.
Namun, tak lama, ombak besar kembali datang
dan menggulung tubuhnya. Kemudian, semuanya terasa gelap bagi Rujiman.
***
Pukul tujuh pagi. Nilam, Bayu, dan Adi masih
belum beranjak dari duduknya di bibir pantai. Menunggu sang bapak yang berjanji
pulang dini hari. Sang bapak yang berjanji mengambil rapor pukul sembilan hari
ini. Mereka belum tahu, yang mereka tunggu tak akan pernah pulang…
1 Pasar
yang biasanya terletak di dalam pelabuhan
/ pangkalan pendaratan ikan, dan di tempat tersebut terjadi transaksi
penjualan ikan/hasil laut baik secara lelang
maupun tidak
2 Pemilik perahu yang mempekerjakan
nelayan lain, tanppa ikut bekerja turun ke laut
3 Musim saat curah hujan bertambah
banyak, gelombang air laut tinggi, dan angin kencang di lautan dari arah barat
4 Pegawai
negeri yg mengepalai urusan pelabuhan; kepala pelabuhan
Hoaaaaa.... Sedih oge ya,
ReplyDelete