Pages

Thursday, September 12, 2019

Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Kota Batu

              Kota Batu merupakan salah satu kota yang berada di Provinsi Jawa Timur dengan letak astronomis antara 122°17’ sampai dengan 122°57’ Bujur Timur dan 7°44’ sampai dengan 8°26’ Lintang Selatan. Kota Batu terletak pada ketinggian rata-rata 862 m di atas permukaan laut. Dilihat dari ketinggian wilayahnya, sebagian besar daerah di Kota Batu terletak di daerah perbukitan atau lereng. Secara morfologi, Kota Batu didominasi oleh wilayah dengan topografi pegunungan dan perbukitan. Ketinggian wilayah mencapai 700-2000 mdpl dengan suhu udara rata-rata mencapai 11-19 derajat Celsius (BPS Kota Batu, 2018).
             Kota Batu memiliki sumber mata air sejumlah 111 titik, dengan debit mata air dalam kondisi normal sebanyak 44 titik atau 39,64 %, debit mata air dalam kondisi sedang sebanyak 28 titik atau 25,22 % dan dalam kondisi rendah sebanyak 39 atau 35,13 %. Dari sumber tersebut kurang lebih menghasilkan rata–rata 16.950.600m3/tahun dan yang dimanfaatkan oleh PDAM sebesar 2.168.148 m3/tahun atau hanya 13%, sedangkan sisanya dipakai pengairan pertanian dan juga terbuang ke sungai. Ketersediaan sumber-sumber mata air cukup potensial, dimana mata air tersebut dikonsumsi oleh masyarakat Kota Batu maupun wilayah sekitarnya, seperti wilayah Malang Raya (Bappeda Kota Batu, 2007).
             Kota Batu memiliki 4 jenis tanah, yaitu andosol, kambisol, alluvial dan latosol. Jenis tanah andosol cokelat merupakan tanah yang terbentuk dari abu dan tufa vulkanik yang menepati punggung gunung atau puncak gunung serta banyak terdapat di Kecamatan Bumiaji. Jenis tanah Andosol, berupa lahan tanah yang paling subur meliputi Kecamatan Batu seluas 1.831,04 ha, Kecamatan Junrejo seluas 1.526,19 ha dan Kecamatan Bumiaji seluas 2.873,89 ha. Jenis tanah Kambisol, berupa jenis tanah yang cukup subur meliputi Kecamatan Batu seluas 889,31 ha, Kecamatan Junrejo 741,25 ha dan Kecamatan Bumiaji 1395,81 ha. Jenis tanah alluvial, berupa tanah yang kurang subur dan mengandung kapur meliputi Kecamatan Batu seluas 239,86 ha, Kecamatan Junrejo 199,93 ha dan Kecamatan Bumiaji 376,48 ha. Jenis tanah Latosol meliputi Batu seluas 260,34 ha, Kecamatan Junrejo 217,00 ha dan Kecamatan Bumiaji 408,61 ha (Bappeda Kota Batu, 2007).
              Luas lahan sawah di Kota Batu tahun 2017 sebesar 2.441,69 Ha, yang terdiri dari 716,23 Ha berada di Kecamatan Batu, 1.042 Ha di Kecamatan Junrejo dan sisanya 683,46 Ha di Kecamatan Bumiaji. Jenis penggunaan lahan paling besar di Kota Batu yaitu tegal atau kebun sedangkan penggunaan lahan terendah yaitu perkebunan, ladang, pohon atau hutan rakyat, padang rumput dan lain-lain. Salah satu penggunaan lahan yang ada di Kota Batu yaitu hutan, hutan yang ada di Kota Batu dibedakan menjadi tiga jenis diantaranya adalah hutan lindung, hutan konservasi dan hutan produksi. Kemudian kawasan pertanian dibedakan menjadi pertanian lahan basah dan pertanian lahan kering. Rata-rata lahan yang mengalami penurunan luas yaitu hutan lindung dan kawasan budidaya yaitu kawasan hutan produksi, kawasan pertanian, dan perkebunan sedangkan lahan yang mengalami penambahan luas yaitu kawasan perumahan dan kawasan industri (Bappeda Kota Batu, 2007).
             Berdasarkan karakteristik fisik tersebut, Kota Batu memiliki potensi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang besar, khususunya melalui sektor pertanian. Faktor abiotik seperti iklim dan cuaca, tanah, serta hidrologi Kota Batu sangat sesuai untuk kegiatan pertanian. Lahan sawah yang cukup melimpah berpengaruh pada tingkat produksi hasil pertanian. Pertanian di Kota Batu didominasi oleh pertanian hortikultura, sedangkan pertanian tanaman pangan kurang dominan. Diantara beberapa macam sayuran yang dibudidayakan di Kota Batu, yang paling dominan adalah kentang, wortel, kobis, dan daun bawang. Sementara, tanaman buah yang dominan adalah apel dan jeruk. Produksi apel di Kota Batu merupakan terbesar di Jawa Timur, bahkan apel dijadikan sebagai ikon di Kota Batu. Produksi tanaman hias juga tidak kalah dengan tanaman sayuran dan buah. Diantara jenis tanaman hias yang paling banyak dikembangkan adalah mawar, krisan, anturium, dan anggrek.
             Peternakan sebagai salah satu sektor pertanian juga menjadi salah satu sumber mata pencaharian di Kota Batu. Hewan ternak yang ada di Kota Batu dibedakan menjadi ternak besar dan ternak kecil. Ternak besar terdiri dari kuda, sapi potong, sapi perah dan kerbau. Jumlah hewan ternak besar yang paling banyak yaitu sapi perah bisa mencapai 11950 ekor, sedangkan jumlah ternak paling sedikit yaitu kerbau yang hanya berjumlah 10 ekor ditahun 2017. Terdapat beberapa jenis tenak kecil yang ada di Kota Batu diantaranya yaitu kambing, domba, babi, kelinci, ayam buras, ayam petelur, ayam pedaging, itik, dan burung dara. Jumlah hewan ternak kecil yang paling banyak di Kota Batu yaitu ayam petelur dengan jumlah 143300 ekor dan ayam pedaging sebanyak 132000 ekor. Sedangkan ternak kecil yang memiliki populasi paling rendah yaitu burung dara yang hanya 175 ekor (Bappeda Kota Batu, 2007).
             Selain  sebagai kota agropolitan, Kota Batu juga terkenal sebagai kota wisata. Terdapat hampir 30 total objek wisata yang ada di Kota Batu, mulai dari wisata alam hingga wisata buatan. Atraksi wisata berupa pemandangan alam, kesejukan udara, dan agrowisata adalah potensi wisata besar yang dimiliki Kota Batu. Agrowisata  hendaknya dapat dijadikan wisata utama di Kota Batu, mengingat hal tersebut disokong oleh karakter fisik khas Kota Batu yang jarang ditemui di daerah lain. Selain itu, agrowisata dapat meningkatan perekonomian pedesaan.
Potensi bencana yang ada di Kota Batu tidaklah terlalu besar. Gunung Panderman dan Arjuno yang mengelilingi Kota Batu bukanlah gunung api aktif. Wilayah Kota Batu juga jauh dari laut, sehingga risiko dan atau dampak bencana yang ditimbulkan oleh keduanya hampir tidak mungkin terjadi di Kota Batu. Potensi bencana yang mungkin terjadi adalah erosi dan longsor. Hal tersebut dapat terjadi terutama di daerah dengan kemiringan tinggi, seperti di Desa Sumber Brantas yang lahan miringnya dijadikan lahan pertanian. Potensi bencana lainnya adalah terjadinya kekeringan. Berdasarkan data dan wawancara yang pernah dilakukan, banyak sumber mata air di Batu yang berkurang debitnya, bahkan tidak mengalir sama sekali. Penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan untuk pembangunan permukiman, tempat wisata, akomodasi wisata seperti hotel dan penginapan, serta bangunan lainnya. Upaya konservasi sumber mata air tidak bisa dilakukan sepenuhnya oleh pemerintah sebab banyak titik mata air yang berada di tanah pribadi warga.
             Aktifnya kegiatan pertanian, selain menjadi roda ekonomi warga Kota Batu, juga menimbulkan potensi pencemaran. Pencemaran dari sektor pertanian tersebut berupa residu pestisida, pupuk, dan limbah produksi pertanian. Limbah tersebut dapat mencemari tanah, air, dan udara di Kota Batu. Meski sejauh ini belum ada dampak pencemaran yang siginifikan, jika hal tersebut dibiarkan akan terjadi akumulasi polutan yang berbahaya bagi tubuh dan lingkungan di kemudian hari.
             Tiap desa di Kota Batu memiliki potensi sumberdaya alam dan komoditas utama pertanian masing-masing, semisal Desa Sidomulyo dengan tanaman hiasnya, Desa Bumiaji sebagai dengan apelnya, Desa Tlekung dengan jeruknya, Desa Sumber Brantas dengan kentangnya, Desa Torongrejo dengan daun bawangnya, Desa Sumberejo dengan sapi perahnya. Keragaman komoditas tersebut hendaknya bisa dijadikan produk andalan, baik tanpa maupun dengan pengolahan, hingga dapat menjadikan tiap desa berdaya dan berdikari, khususnya secara ekonomi, melalui sektor pertanian yang menjadi aset utama bagi desa-desa di Kota Batu.
             Strategi pengelolaan potensi sumber daya alam di Kota Batu adalah melalui pemberdayaan masyarakat desa, khususnya dalam bidang pertanian. Pengelolan sumber daya alam yang tepat dan optimal akan menggerakkan pembangunan. Konsep desa membangun berbeda dengan membangun desa. Desa membangun memiliki arti bahwa desa mempunyai kemandirian dalam membangun dirinya. Desa hendaknya dijadikan pondasi pembangunan nasional. Pembangunan bukan lagi dari atas ke bawah (top down) melainkan berangkat dari bawah (bottom up). Sudah seharusnya pembangunan menjadikan desa sebagai subyek, bukan obyek. Indeks ekonomi, sosial, dan lingkungan dalam pembangunan Kota Batu harus diintegralkan, agar kesejahteraan atas ketiganya dapat tercapai. Sekali lagi, lokalitas hendaknya dijadikan dasar dan titik awal pembangunan.
            Pendekatan atau manajemen partisipasif dapat dilakukan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya untuk pembangunan Kota Batu. Peran pemerintah adalah mengedukasi, mendampingi, dan mengevaluasi kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang dilakukan masyarakat. Edukasi diperlukan agar sumber daya manusia dapat mengelola sumber daya alam dengan optimal dan berkelanjutan. Edukasi dan pendampingan yang dapat dilakukan pemerintah Kota Batu di antaranya perihal pertanian organik dan pariwisata (terutama agrowisata) yang berkelanjutan. Pertanian sebagai potensi utama Kota Batu harus dipertahankan dan dikembangkan. Pemeliharaan dan pengelolaan sumber daya alam yang tepat harus dilakukan agar cita-cita pembangunan berkelanjutan dapat tercapai.

Daftar Pustaka
Bappeda Kota Batu. 2007. Profil Wilayah Kota Batu. Kota Batu: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.
            BPS Kota Batu. 2018. Statistik Daerah Kota Batu 2018. Batu: Badan Pusat Statistik Kota Batu.

No comments :

Post a Comment

 

GITA HARSAYA Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos