Pages

Thursday, January 3, 2013

Kurangnya Minat Menulis di Kalangan Remaja dan Mahasiswa


Rabu, 9 Februari 2012, Bu Dewi Pusposari, dosen matakuliah Bahasa Indonesia Keilmuan Universitas Negeri Malang, dalam perkuliahnnya memaparkan bahwa budaya menulis di Indonesia, khususnya di kalangan mahasiswa dirasa kurang oleh beberapa pihak. Padahal produk mahasiswa dalam menulis merupakan salah satu indikator penilaian mutu suatu perguruan tinggi. Menanggapi hal tersebut, saya mencoba memberikan argumen berdasarkan sudut pandang saya, yang mungkin mewakili remaja dan mahasiswa pada umumnya.
Minat menulis setiap orang memang berbeda-beda, ada yang simpatis, ada pula yang apatis. Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakminatan mahasiswa dalam menulis, yang menjadi sorotan disini adalah faktor kemauan. Semua orang, apalagi mahasiswa, pasti bisa menulis, tetapi hanya beberapa dari mereka yang mau untuk menulis. Banyak alasan yang menjadikan mahasiswa kurang memberikan apresiasinya terhadap bidang ini. Banyaknya tugas kuliah menjadi salah satu alasan logis yang menjadikan mahasiswa enggan untuk menulis. Waktu yang dianggap limit untuk mengerjakan tugas-tugas tersebut menyebabkan mereka malas untuk menulis. Tentunya mereka lebih mengutamakan tugas kuliah yang merupakan kewajiban pokok sebagai mahasiswa.
 Tentu saja kurangnya budaya membaca juga mempengaruhi budaya menulis. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya mahasiswa yang lebih suka mengunjungi mall atau pusat perbelanjaan untuk sekedar refreshing daripada pergi ke perpustakaan umum untuk membaca novel sekalipun. Padahal dengan membaca, banyak atau sedikit, timbul rasa kagum terhadap tulisan yang kita baca. Pengetahuan-pengetahuan baru masuk ke otak kita, yang nantinya bisa dijadikan ide maupun referensi untuk berkaryatulis. Dimulai dari rasa kagum dan pengetahuan tersebut, akan timbul keinginan untuk membuat sebuah tulisan. Tinggal bagaimana caranya untuk mengembangkan keinginan tersebut menjadi sebuah karya nyata. Terkadang mereka enggan menulis karena merasa referensi yang dimiliki untuk membuat sebuah tulisan masih kurang. Tapi tentunya hal ini tidak dijadikan alasan untuk berhenti menulis. Dengan mengetik kata pada kolom search di Google, kita dapat menemukan banyak data yang kita butuhkan untuk menulis.
Mungkin juga mereka menganggap menulis tidaklah terlalu penting. Di usia-usia yang merupakan peralihan antara remaja dan dewasa, mahasiswa, terutama yang masih menempuh semester awal biasanya masih lebih memikirkan cinta, gaya hidup, dan pecarian jati diri. Apalagi di kota-kota besar, sepertinya remaja dan mahasiswa terlalu sibuk dengan hedonisme mereka. Mereka lebih megedepankan out look dengan barang-barang branded, berburu kue, makanan, dan minuman di restoran-restoran elit, dan kegiatan yang dianggap menyenangkan lainnya. Namun alangkah lebih baik jika remaja, khususnya mahasiswa lebih memikirkan sumbangsih mereka terhadap orang lain. Minimal dengan menuangkan pendapat, gagasan, atau ide mereka dalam sebuah tulisan.
Sebagai contoh, sekarang banyak dijumpai blog-blog bagus tentang fashion oleh para remaja. Mereka sepertinya total dalam membuat blog seperti ini. Namun hanya sedikit blog para remaja dan mahasiswa tentang tulisan yang bermutu. Majalah-majalah remaja yang memuat gaya hidup pun sepertinya lebih diminati daripada koran, buletin, maupun jurnal ilmu pengetahuan. Mungkin diperlukan inovasi terhadap desain maupun isi media cetak berbasis ilmu pengetahuan tersebut agar remaja dan mahasiswa lebih  berminat untuk membacanya.
Kita akan menjadi kreatif jika ‘dipaksa’. Mahasiswa sebenarnya mampu membuat karya tulis yang bagus. Sayangnya mereka hanya menulis jika ada tugas matakuliah dari dosen, bukan atas kesadaran sendiri. Padahal dengan menulis, kita akan dikenang, karya kita akan tetap ada, terdokumentasi dalam sususan kata-kata.

No comments :

Post a Comment

 

GITA HARSAYA Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos