Rabu,
9 Februari 2012, Bu Dewi Pusposari, dosen matakuliah Bahasa Indonesia Keilmuan
Universitas Negeri Malang, dalam perkuliahnnya memaparkan bahwa budaya menulis
di Indonesia, khususnya di kalangan mahasiswa dirasa kurang oleh beberapa
pihak. Padahal produk mahasiswa dalam menulis merupakan salah satu indikator
penilaian mutu suatu perguruan tinggi. Menanggapi hal tersebut, saya mencoba
memberikan argumen berdasarkan sudut pandang saya, yang mungkin mewakili remaja
dan mahasiswa pada umumnya.
Minat
menulis setiap orang memang berbeda-beda, ada yang simpatis, ada pula yang
apatis. Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakminatan mahasiswa dalam menulis,
yang menjadi sorotan disini adalah faktor kemauan. Semua orang, apalagi
mahasiswa, pasti bisa menulis, tetapi hanya beberapa dari mereka yang mau untuk
menulis. Banyak alasan yang menjadikan mahasiswa kurang memberikan apresiasinya
terhadap bidang ini. Banyaknya tugas kuliah menjadi salah satu alasan logis
yang menjadikan mahasiswa enggan untuk menulis. Waktu yang dianggap limit untuk
mengerjakan tugas-tugas tersebut menyebabkan mereka malas untuk menulis.
Tentunya mereka lebih mengutamakan tugas kuliah yang merupakan kewajiban pokok
sebagai mahasiswa.
Tentu saja kurangnya budaya membaca juga
mempengaruhi budaya menulis. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya mahasiswa
yang lebih suka mengunjungi mall atau
pusat perbelanjaan untuk sekedar refreshing
daripada pergi ke perpustakaan umum untuk membaca novel sekalipun. Padahal
dengan membaca, banyak atau sedikit, timbul rasa kagum terhadap tulisan yang
kita baca. Pengetahuan-pengetahuan baru masuk ke otak kita, yang nantinya bisa
dijadikan ide maupun referensi untuk berkaryatulis. Dimulai dari rasa kagum dan
pengetahuan tersebut, akan timbul keinginan untuk membuat sebuah tulisan.
Tinggal bagaimana caranya untuk mengembangkan keinginan tersebut menjadi sebuah
karya nyata. Terkadang mereka enggan menulis karena merasa referensi yang
dimiliki untuk membuat sebuah tulisan masih kurang. Tapi tentunya hal ini tidak
dijadikan alasan untuk berhenti menulis. Dengan mengetik kata pada kolom search di Google, kita dapat menemukan
banyak data yang kita butuhkan untuk menulis.
Mungkin
juga mereka menganggap menulis tidaklah terlalu penting. Di usia-usia yang
merupakan peralihan antara remaja dan dewasa, mahasiswa, terutama yang masih menempuh
semester awal biasanya masih lebih memikirkan cinta, gaya hidup, dan pecarian
jati diri. Apalagi di kota-kota besar, sepertinya remaja dan mahasiswa terlalu
sibuk dengan hedonisme mereka. Mereka lebih megedepankan out look dengan barang-barang branded,
berburu kue, makanan, dan minuman di restoran-restoran elit, dan kegiatan yang
dianggap menyenangkan lainnya. Namun alangkah lebih baik jika remaja, khususnya
mahasiswa lebih memikirkan sumbangsih mereka terhadap orang lain. Minimal
dengan menuangkan pendapat, gagasan, atau ide mereka dalam sebuah tulisan.
Sebagai
contoh, sekarang banyak dijumpai blog-blog bagus tentang fashion oleh para remaja. Mereka sepertinya total dalam membuat
blog seperti ini. Namun hanya sedikit blog para remaja dan mahasiswa tentang
tulisan yang bermutu. Majalah-majalah remaja yang memuat gaya hidup pun
sepertinya lebih diminati daripada koran, buletin, maupun jurnal ilmu
pengetahuan. Mungkin diperlukan inovasi terhadap desain maupun isi media cetak
berbasis ilmu pengetahuan tersebut agar remaja dan mahasiswa lebih berminat untuk membacanya.
Kita
akan menjadi kreatif jika ‘dipaksa’. Mahasiswa sebenarnya mampu membuat karya
tulis yang bagus. Sayangnya mereka hanya menulis jika ada tugas matakuliah dari
dosen, bukan atas kesadaran sendiri. Padahal dengan menulis, kita akan
dikenang, karya kita akan tetap ada, terdokumentasi dalam sususan kata-kata.
No comments :
Post a Comment