Berbicara tentang sahabat, pasti hampir semua
diantara kita memilikinya. Kita tak pernah merasa sendiri jika mempunyai
sahabat. Sahabat selalu ada saat suka dan duka. Bersama saat tertawa dan tetap
bersama saat terluka. Kita seolah ikut merasakan apapun yang
dirasakan oleh sahabat kita, begitu pula sebaliknya. Jiwa kita seolah menyatu
oleh ikatan erat yang disebut persahabatan.
Tidak hanya kita, suatu negara juga membutuhkan
sahabat. Apalagi di jaman globalisasi ini, negara sepertinya wajib untuk
bersahabat dengan negara lain agar tetap survive
dalam menghadapi persoalan dunia yang semakin kompleks. Hubungan kerjasama
antarnegara baik secara multilateral, regional, maupun bilateral mutlak diperlukan.
Negeri kita sudah menjalin hubungan bilateral dengan banyak negara. Salah satu
diantaranya adalah Maroko. Hubungan persahabatan Indonesia dengan negeri di
kawasan Afrika Utara ini sudah terjalin selama setengah abad lebih. Sebelumnya,
Indonesia dan Maroko sudah saling mengenal pada pertengahan abad ke 14 M
melalui pengembara sekaligus sosiolog muslim Maroko bernama Ibnu Battutah. Begitu
juga Maulana Malik Ibrahim, sesepuh Wali Songo asal Maroko yang dikenal dengan
nama Sunan Gresik, datang untuk berdagang dan
menyebarkan agama Islam di Indonesia.
Perkenalan Indonesia-Maroko semakin
dekat saat peristiwa perjuangan kemerdekaan di beberapa negara Asia dan Afrika.
Dukungan Indonesia mendorong Maroko aktif dalam Konferensi Asia Afrika yang
diselenggarakan di Bandung. Setahun setelah itu, tepatnya tanggal 2 Maret 1956,
Maroko meraih kemerdekaannya. Hari itu juga hubungan diplomatik antara dua
negara ini terjalin, yang ditandai dengan dibukanya
Kantor Kedutaan Besar RI di Rabat. Beberapa minggu kemudian, Presiden Soekarno beserta
rombongan tiba di Rabat. Beliau mendapat sambutan hangat dari Raja Mohammed V
dan rakyat Maroko. Presiden Soekarno dianggap tokoh yang berperan dalam
kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika, termasuk Maroko. Nama Soekarno pun
dijadikan sebagai nama jalan disana. Begitu juga nama Jakarta dan Bandung turut
dijadikan sebagai nama jalan di negeri matahari terbenam tersebut.
Sejarah persahabatan Indonesia-Maroko selama
51 tahun itu masih terawat hingga saat ini. Berbagai kerjasama baik dalam bidang
pendidikan, ekonomi, politik, pariwisata, sosial, dan budaya telah dilakukan
oleh keduanya. Upaya kerjasama yang dilakukan antara lain pertukaran dosen dan tim peneliti untuk pendalaman khasanah
ke-Islaman, kunjungan Dharma Wanita
Persatuan bersama staf KBRI dalam rangka memberikan bantuan sosial kepada
Asosiasi Sosial Budaya Tunanetra Maroko, kunjungan Tim Pertukaran Ilimiah Badan
Litbang Pertanian ke INRA ( Intitute National de la Recherce Agronomique )
Maroko untuk mengidentifikasi bidang penelitian pertanian yang berpotensi untuk
dikembangkan, pemutaran film Laskar Pelangi di berbagai
universitas di Maroko, dan banyak
kegiatan lainnya. Seluruh kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menjaga tali
persaudaraan kedua negara yang sudah lama terjalin.
Maroko merupakan negeri berbasis Arab
dengan peradaban style versi Eropa. Menurut
Musthafa Abdul Rahman, potret itu adalah keberhasilan sistem monarki di Maroko
yang telah menjadikan Islam dan modernitas berjalan seiring. Islam dan
kemodernan berpadu harmonis dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan
politik (http://4binajwa.wordpress.com/khazanah-tijaniyah/maroko-keindahan-islam-di-ufuk-barat/).
Hal ini hampir sama dengan kondisi
yang ada di Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbanyak di dunia, namun
tetap berjalan seiring kemodernitasan jaman. Bahkan Wakil Menteri Luar Negeri
Maroko, Latifa Akherbach,
menyampaikan bahwa Indonesia dengan
jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dapat dijadihkan contoh sebagai negara
yang mampu memadukan antara nilai Islam,
demokrasi dan modernisasi, sehingga Maroko menilai Indonesia merupakan negara
penting untuk menjalin kerja sama dalam menghadapi tantangan dan krisis global (www.infogue.com).
Hal ini tentunya dapat dijadikan pondasi
yang bagus untuk menjalin hubungan kekerabatan yang lebih erat. Melalui
persamaan kontur sosial budaya kedua negara tersebut, diharapakan hal tersebut dapat
berkembang ke alur-alur sistem yang lain. Budaya sangatlah kompleks, banyak
subpola-subpola yang mengakar kepadanya, seperti pendidikan, politik, hukum, ekonomi,
kesenian, wisata, dan sebagainya. Dengan menjadikan budaya sebagai langkah awal
dalam upaya mempererat kekerabatan, diharapakan hubungan Indonesia-Maroko dapat
semakin bersimbiosis mutualisme.
Budaya
merupakan identitas atau jati diri suatu bangsa. Ciri khas suatu bangsa akan
terlihat melalui budayanya. Budaya sebagai jati diri bangsa, juga bisa dianggap
sebagai jiwanya bangsa. Menyatukan jiwa kedua bangsa, berarti ikut merasakan,
memahami, dan mengerti akan kondisi negara masing-masing. Banyak potensi
Indonesia dan Maroko yang belum diketahui satu sama lain. Misalnya dalam
pendidikan, popularitas
Maroko untuk mahasiswa asing belum setingkat Mesir atau negara-negara di Eropa.
Padahal kualitas pendidikan di sana tidak kalah baik dengan universitas di
negara lainnya. Contoh lain adalah dalam bidang pariwisata. Masyarakat
Indonesia yang mendapat bebas visa selama tiga bulan jika berkunjung ke Maroko,
sepertinya kurang memanfaatkan fasilitas ini. Padahal di Maroko banyak terdapat
tempat yang menarik untuk dikunjungi. Misalnya daerah Volubilis yang memukau
karena situs Kekaisaran Romawinya, ada juga derah Marrakesh dengan bangunan
merah batanya yang indah, atau Kota Casablanca dengan kemodernananya, dan masih
banyak lagi tempat menarik untuk dikunjungi. Sebaliknya,
Indonesia dapat mengenalkan keindahan alamnya selain Pulau Bali yang sudah
banyak dikenal. Banyak tempat menakjubkan di Indonesia yang belum begitu
dikenal di mata dunia. Misalnya Ngarai Sianok di Sumatera Barat, Raja Ampat di Papua
Barat, dan banyak tempat menakjubkan lainnya. Agar potensi kedua negara ini
dapat saling dikenal, perlu dilakukan upaya-upaya peningkatan kerjasama,
misalnya melalui
kunjungan pejabat tinggi kedua negara, promosi budaya masing-masing, kerjasama
ekonomi, pendidikan, serta bidang lainnya.
Mengingat kebersamaan masa lalu yang
indah serta kerjasama yang baik hingga saat ini, semestinya Indonesia dan
Maroko bisa mempererat persahabatannya. Kita
bisa mencontoh persahabatan tokoh kartun Doraemon dan Nobita dalam menjalani
hari-harinya, Dora dan Boots dalam menyelesaikan misi mereka, atau dalam dunia
nyata, dua sahabat yang menjadi maestro
Microsoft, Bill
Gates dan Paul Allen, dapat dijadikan inspirasi. Bukan tidak mungkin persahabatan
Indonesia-Maroko akan menjadi duo hebat yang kerjasamanya dapat memberikan
kontribusi penting bagi dunia internasional. Tugas Indonesia-Maroko kini adalah
meneruskan serta mengembangkan hubungan bilateralnya, hingga Indonesia dan
Maroko tetap menjadi sepasang sahabat, dulu, kini, esok, dan selamanya.
No comments :
Post a Comment