Dulu, ketika nenek muda
Gaharu berjajar rata dalam rimba
Pelangi kecil ranum di balik semak, wanginya
semerbak
Desir dedaunan berpadu dengan kicau
kutilang
Harmoni nada mengalun dalam orkestra alam
Dulu, ketika nenek muda
Menghidu semilir sangatlah lezat
Sehat dan nikmat meski lamat-lamat
Saat fajar datang, iringan elora
turut menemani
Sinar jingga menembus pagi lalu membelai pipi
Itu dulu, ketika nenek muda
Kini semua berbeda, semesta semakin
renta
Yang hijau nampak kelabu, yang bersih
jadi berdebu
Khalifah-khalifah semu terlalu jauh menyansai
alam
Membiarkan terik menyusup gahar
Membiarkan masa lalu menguap benar-benar
Udara panas mencakar kota dengan
beringas
Kepulan racun saling berebut, memaksa
untuk dihirup
Mana hamparan hijau yang kata nenek
mendamaiakan?
Hanya nampak beton rapuh berdiri di
hadapan
Dongengkah? Legendakah?
Entahlah, hanya imajinasi yang kini bermain
dalam otak
Aku ingin menatap semesta dengan
nyata
Seperti dulu, ketika nenek muda

No comments :
Post a Comment