BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Banyak di antara para pengendara sepeda motor
yang mengetahui program safety riding
yang sering dipublikasikan oleh berbagai pihak, khususnya pihak kepolisian lalu
lintas. Namun sepertinya
pengenalan dan kampanye konsep safety riding saja tidaklah cukup untuk
menjelaskan kepada pengendara kendaran bermotor mengenai keselamatan di jalan
raya. Pelanggaran–pelanggaran kecil sampai besar pun masih banyak ditemui.
Misalnya saja, pengendara sepeda motor yang hanya memakai helmnya jika ada
polisi lalulintas. Di sini sepertinya pemakaian helm dianggap suatu kewajiban
yang jika dilanggar akan mendapat sanksi. Padahal seharusnya pemakain helm
bukan dilandasi karena rasa takut pada polisi atau yang lainnya, melainkan
kemauan dan kesadaran diri akan keselamatan dirinya sendiri.
Safety riding hanya dijadikan teori,
tanpa ada praktek langsung di lapangan. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya kepahaman, kesadaran, dan penerapan
cara aman berkendaraan (safety riding).
Kurangnya etika berlalulintas pun dapat menjadikan tidak kondusifnya susasana
di jalan raya, sikap toleransi antar pengguna jalan tidak diterapkan. Hal tersebut
akan mengurangi tingkat ketertiban pengendara sepeda motor di jalan raya. Ketidaktertiban
ini banyak atau sedikit akan menimbulkan dampak negatif bagi dirinya sendiri
maupun pengguna jalan lain. Hal itu menyebabkan semakin besarnya peluang
terjadinya kecelakaan di jalan sehingga menyebabkan banyaknya korban dari tahun ke tahun, khususnya di kalangan pelajar.
1.2 Rumusan Masalah
Di dalam suatu penelitian akan
muncul suatu pokok permasalahan yang menjadi arah dalam penelitian. Dalam
penelitian ini, permasalahan dirumuskan sebagai berikut :
o
Apakah
ada pengaruh antara tingkat kesadaran berkendara yang aman terhadap ketertiban
berlalu lintas di kalangan pelajar?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian latar
belakang masalah dan rumusan masalah sebagaimana dikemukakan tersebut, maka
tujuan penelitian ini adalah :
o
Untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh tingkat kesadaran berkendara yang aman
terhadap ketertiban berlalu lintas di kalangan pelajar.
1.4 Manfaat penelitian
Mengingat tujuan
penelitian di atas, maka manfaat di dalam penelitian ini adalah :
a.
Sebagai
bahan referensi bagi kalangan akademis.
b. Sebagai bahan masukan bagi penelitian
serupa di masa yang akan datang.
c. Sebagai bahan pembanding penelitian lain
dengan variabel berbeda.
d. Untuk memperkaya khasanah studi ilmiah.
e. Sebagai bahan pertimbangan kepada
Kepolisian dan instansi terkait dalam upaya menegakkan ketertiban di jalan
raya.
BAB II
KAJIAN TEORI
2.1
Kajian Mengenai Tingkat Kesadaran Manusia
Kesadaran merupakan suatu yang dimiliki oleh
manusia dan tidak ada pada ciptaan Tuhan yang lain. Kesadaran merupakan unsur dalam manusia dalam memahami realitas
dan bagaimana cara bertindak atau menyikapi terhadap realitas. Manusia dengan
dikaruniahi akal budi merupakan mahluk hidup yang sadar dengan dirinya.
Kesadaran yang dimiliki oleh manusia kesadaran dalam diri, akan diri sesama, masa silam, dan
kemungkinan masa depannya. Perkembangan kesadaran manusia berlangsung pada tiga
tahap, yakni sensansi (pengindraan), perseptual (pemahaman), dan konseptual (pengertian)
(www.wikipedia.com).
Agus Mustofa (dalam Khairul, 2006) menyatakan
bahwa :
Kesadaran inderawi
adalah kesadaran yang sifatnya dipicu oleh panca indera. Kesadaran rasional.
Setelah indera kita tak mampu
lagi menjelaskan, manusia bisa naik ke tingkat kesadaran berikutnya yaitu
kesadaran rasional. Kesadaran rasional ini menggunakan pikiran untuk menjangkau
sesuatu yang tak terjangkau indera. Pada kesadaran rasional inilah muncul
pengetahuan ilmiah.
Kesadaran spiritual. Ketika manusia bahkan dengan pikiran
rasionalnya tak mampu lagi membuat penjelasan, maka dia akan naik ke tingkat
kesadaran spiritual, yaitu menyadari adanya sesuatu yang maha dahsyat di balik
semua yang tak terjangkau rasio itu. Inilah kesadaran yang mengakui keberadaan
Tuhan. Di sinilah muncul pengetahuan nurani atau suara hati.
2.2
Kajian Mengenai Kesadaran Berlalulintas
Kesadaran adalah sebuah fakultas mental yang
memberikan manusia kemampuan memahami rasionalitas dan kehendak bebas dan
memungkinkan adanya pelbagai penafsiran tentang realitas (Takwin dalam Djibran,
2007). Artinya, kesadaran
berperan memahami dan menentukan kehendak dan sikap kita secara rasional dalam
menghadapi realitas disekeliling kita.
Pertumbuhan sepeda motor di
Indonesia terus bertambah, seiring dengan kebutuhan transportasi yang efisien
dan terjangkau. Beberapa alasan yang sering diutarakan adalah irit bahan bakar,
bebas macet, sanggup membawa barang, membawa orang, dan harganya terjangkau.
Dari tengah kota hingga sudut-sudut desa sepeda motor mudah ditemukan. Ironisnya, keefisienan sepeda motor tersebut justru berimplikasi pada semakin
arogannya pengendara sepeda motor. Dengan memahami bahwa kesadaran berperan dalam memahami dan menentukan
kehendak dan sikap manusia dalam menafsirkan realitas disekitarnya, dapat
dijelaskan bahwa arogansi para pengendara di jalan raya, tentunya disebabkan
oleh rendahnya tingkat kesadaran para pengendara ketika menafsirkan realitas
disekitarnya. Artinya, semakin tinggi tingkat kesadaran para pengendara,
semakin tinggi pula tingkat kesadaran sosial para pengendara yang pada
gilirannya akan melahirkan kehendak dan sikap yang rasional pula (Pradita Tria
Wirawan, Etika Berkendara
dan Cerminan Budaya Bangsa, 2008).
2.3
Kajian Mengenai Safety Riding
Dalam pengenalan konsep safety riding, pengendara
sepeda motor akan dikenalkan dengan berbagai perangkat keselamatan, pengujian
ketrampilan berkendara, pengenalan karakteristik kendaraan, dan pengenalan
mengenai etika dasar berkendara di jalan raya. Langkah awal ini penting untuk
menyadarkan pengendara kendaraan bermotor, khususnya sepeda motor akan resiko
berkendara sehingga dapat meningkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan di jalan
raya.
a. Atribut yang harus dikenakan saat
berkendara sepeda motor (Safety
Apparels)
1. Helm
1. Helm
Helm yang baik adalah yang menutup kepala secara
penuh (full face) atau terbuka di
bagian rahang (half face), sebaiknya
mampu memberikan proteksi lebih kepada kepala. Tali pengikat helm harus dipasang dan dikencangkan
secara benar untuk mencegah helm terlepas saat jatuh.
2. Pakaian
Jaket lengan panjang dan celana panjang
yang pas dan nyaman di tubuh pengendara saat
mengendarai sepeda motor. Sebaiknya mampu melindungi seluruh bagian tubuh baik
dari terpaan angin maupun efek negatif apabila terjadi benturan baik kecil
maupun besar.
3. Sepatu
Sepatu haruslah mampu memberikan kenyamanan serta
keamanan bagi seluruh lapisan kaki. Sebaiknya mempunyai tinggi melewati mata
kaki dan berpelindung tepat pada mata kaki.
4. Sarung Tangan
Sebaiknya memiliki lapisan yang dapat menutupi kedua belah tangan dan bahan yang dapat menyerap keringat serta tidak licin saat memegang ip/handle motor.
Sebaiknya memiliki lapisan yang dapat menutupi kedua belah tangan dan bahan yang dapat menyerap keringat serta tidak licin saat memegang ip/handle motor.
b.
Pengecekan kondisi sepeda motor
1. Kaca Spion
Memastikan posisi kaca spion dengan benar
untuk mendapatkan pandangan yang
lebih luas dan memasang lengkap kedua spion (kiri dan kanan).
2. Rem
Memeriksa rem depan dan belakang apakah berfungsi secara normal, khususnya
rem depan karena lebih efektif dalam
pengereman.
3. Sistem
kelistrikan
Memastikan
bahwa sistem kelistrikan yang meliputi lampu sein, lampu rem, lampu depan, dan klakson berfungsi dengan baik.
4. Ban
Memeriksa tekanan angin ban sesuai standard dan memeriksa keausan alur ban.
Ban yang aus dan tekanan angin yang tidak sesuai akan menyebabkan jarak
pengereman semakin panjang dan pengendalian menjadi tidak stabil saat menikung.
5. Jika ada suku cadang yang harus diganti,
hendaknya segera menggantinya.
6. Rantai sepeda motor
Ketegangan ratai sepeda motor harus diperiksa.
Jangan terlalu kendor dan jangan pula terlalu kencang. Rantai sepeda yang
terlalu kencang akan cepat merusak kendaraan.
c. Membawa surat – surat kendaraan saat berkendara sepeda motor, yaitu
SIM
dan STNK.
Surat Tanda
Nomor Kendaraan atau
disingkat STNK adalah tanda
bukti pendaftaran dan pengesahan suatu kendaraan bermotor berdasarkan identitas
dan kepemilikannya yang telah didaftar. STNK berisi identitas kepemilikan (nomor polisi, nama pemilik, alamat pemilik) dan identitas
kendaraan bermotor.
2.4
Kajian Mengenai Perilaku Tertib Berlalulintas
Perilaku tertib berlalulintas meliputi
segala tindakan yang patuh dan taat terhadap peraturan–pertaturan lalulintas.
Seorang yang tertib berlalu lintas biasanya mengerti akan rambu–rambu dan etika
berlalulintas di jalan raya. Hal ini dapat ditumbuhkan melalui penanaman sikap kedisiplinan tinggi di
jalan raya.
Selama ini, masyarakat Indonesia belum
terbiasa untuk menumbuhkan sikap tertib di berbagai bidang, termasuk di jalan
raya. Akibatnya adalah
terjadi banyak pelanggaran dan upaya untuk menyiasati sebuah peraturan tertentu
di jalan raya. Dampak lanjutannya adalah, pengendara akan lebih memprioritaskan
faktor kecepatan daripada faktor keselamatan dalam berkendara.
Budaya tertib di jalan akan berbuah etika
berkendara yang baik sehingga memunculkan sikap untuk saling mengerti,
memahami, dan toleransi antar sesama pengguna jalan. Tertib berlalulintas
tersebut dapat kita lihat dari tindakan pengendara di jalan raya, misalnya
menaati traffic lights, menyalakan
lampu kendaraan di siang hari, tidak berkendaraan secara ugal-ugalan, dsb.
Pada akhirnya, etika yang baik dalam
berkendara dapat meminimalirsir terjadinya kecelakaan yang dapat menimbulkan
banyak kerugian baik materi maupun immateri, seperti hilangnya nyawa seseorang.
Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa untuk menciptakan suasana keamanan dan
kenyamanan dalam berkendara, maka diperlukan etika berkendara yang ditopang
oleh sikap disiplin dan tertib pengendara kendaraan.
2.5
Hipotesis
Setelah melakukan kajian teori
maka peneliti dapat berhipotesa bahwa:
”Ada pengaruh antara tingkat kesadaran
berkendara yang aman terhadap perilaku tertib
berlalu lintas di kalangan pelajar SMA Negeri 01 Batu”.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Rancangan Penelitian
Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian deskriptif yaitu
penelitian yang berusaha mendeskripsikan atau menggambarkan atau melukiskan
fenomena atau hubungan antar fenomena yang diteliti dengan sistematis (Kusmayadi
dan Endar Sugiarto, 2000). Sedangkan untuk mencari hubungan antar fenomena yang
diteliti digunakan analisis korelasi.
3.2
Populasi dan Sampel
Sebagai populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh peserta didik SMA Negeri 01 Batu tahun pelajaran
2009/2010 yang mengendarai sepeda motor sebanyak 323 orang (pada saat
penelitian dilakukan). Sedangkan
sampel yang digunakan adalah sebanyak 10% dari jumlah populasi yaitu 32 orang
yang diambil dengan cara acak sederhana.
3.3
Definisi Operasional Variabel
Agar tidak terjadi kesalahan penafsiran dalam
penelitian ini, maka dilakukan operasionalisasi variabel sebagai berikut :
1. Tingkat kesadaran berkendara yang aman yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah pengecekan kelengkapan surat
kendaraan, penggunaan perlengkapan berkendaraan (helm, jaket, sepatu, dan
sarung tangan), serta pengecekkan kondisi sepeda motor berupa kaca spion, lampu
sein, lampu rem, rantai, ban, dan pelumas.
2. Perilaku tertib yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah ketaatan pada rambu-rambu lalu lintas, penggunaan
jalur di lajur kiri, menyalakan lampu kendaraan roda dua di siang hari,
pemberian tanda saat akan berbelok atau menyalip, dan cara mengemudi yang tidak
ugal-ugalan.
3.4
Alat Pengumpulan Data
Instrumen atau alat pengumpul data yang
digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner (dapat dilihat pada lampiran).
a.
Instrumen tingkat kesadaran berkendara
yang aman
Pada instrumen ini, kita dapatkan
beberapa indikator, yaitu pengetahuan dan kesadaran aman berkendara yang
meliputi pengecekan kelengkapan surat kendaraan, penggunaan perlengkapan berkendaraan
(helm, jaket, sepatu, dan sarung tangan), serta pengecekkan kondisi sepeda
motor berupa kaca spion, lampu sein, lampu rem, rantai, ban, dan pelumas.
Instrumen ini menggunakan teknik skala
likert yang dimodifikasi, yakni dengan empat pilihan jawaban yang bergradasi.
Masing-masing butir pertanyaan diberi skor sebagai berikut : selalu = 4, sering = 3, jarang = 2, tidak
pernah = 1. Kecuali pertanyan nomor satu, skor didasarkan pada jumlah jawaban
yang dipilih.
b. Instrumen perilaku tertib berlalu-lintas
Instrumen perilaku tertib berlalulintas memiliki beberapa
indikator, yaitu ketaatan pada rambu-rambu lalu lintas, ketaatan pada traffic lights, penggunaan jalur di
lajur kiri, menyalakan lampu kendaraan di siang hari, pemberian tanda saat akan
berbelok atau menyalip, dan cara mengemudi yang tidak ugal-ugalan.
Instrumen ini menggunakan teknik skala
likert yang dimodifikasi, yakni dengan empat pilihan jawaban yang bergradasi.
Masing-masing butir pertanyaan diberi skor sebagai berikut : selalu = 4, sering = 3, jarang = 2, tidak
pernah = 1.
3.5
Teknik Analisis Data
Teknik yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif yang berupa distribusi
frekuensi. Sedangkan untuk menganalisis hubungan antara penerapan program safety riding dengan perilaku tertib di
kalangan pelajar menggunakan analisis tabulasi silang.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Penyajian
Data
a. Tingkat
Kesadaran Berkendara yang Aman (Variabel X)
Pada
instrumen ini, kita menggunakan beberapa indikator, yaitu
pengetahuan dan kesadaran aman berkendara yang meliputi pengecekan kelengkapan
surat kendaraan, penggunaan perlengkapan berkendaraan (helm, jaket, sepatu, dan
sarung tangan), serta pengecekkan kondisi sepeda motor berupa kaca spion, lampu
sein, lampu rem, rantai, ban, dan pelumas.
Secara tabulasi disajikan pada data
berikut :
Tabel 1: Tabel Distribusi
Frekuensi Variabel Tingkat Kesadaran Berkendara yang Aman
No.
|
Indikator
Variabel X
|
Skor
|
|||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
||||||
f
|
f%
|
f
|
f%
|
f
|
f%
|
f
|
f%
|
||
1.
|
Sumber pengetahuan tentang safety riding
|
12
|
37,50
|
10
|
31,25
|
4
|
12,50
|
6
|
18,75
|
2.
|
Frekuensi mendapat
pengetahuan tentang safety riding
|
5
|
15,62
|
12
|
37,50
|
2
|
6,25
|
13
|
40,62
|
3.
|
Penambahan pemahaman tentang safety riding
|
2
|
6,25
|
14
|
43,75
|
10
|
31,25
|
6
|
18,75
|
4.
|
Penggunaan helm
standar dengan benar
|
0
|
0
|
3
|
9,38
|
7
|
21,88
|
22
|
68,75
|
5.
|
Penggunaan
perlengkapan (atribut) saat berkendaraan
|
3
|
9,38
|
19
|
59,38
|
9
|
28,12
|
1
|
3,13
|
6.
|
Pemasangan spion
lengkap
|
12
|
37,50
|
9
|
28,12
|
2
|
6,25
|
9
|
28,12
|
7.
|
Pemeriksaan kondisi
sepeda motor
|
8
|
25
|
13
|
40,62
|
7
|
21,88
|
4
|
12,50
|
8.
|
Pembawaan surat
berkendara (SIM dan STNK)
|
4
|
12,50
|
9
|
28,12
|
1
|
3,13
|
18
|
56,25
|
Sumber: Data primer diolah
Dilihat dari indikator sumber
pengetahuan tentang safety riding, sebagian besar responden (37,5%) menyatakan
bahwa sumber tentang konsep safety riding diperoleh dari satu sumber saja,
antara lain sosoialisasi kepolisian, TV atau radio, melihat spanduk atau poster
di jalan-jalan, atau informasi dari orang lain. Untuk indikator frekuensi
mendapat pengetahuan tentang safety riding, responden paling banyak menyatakan
bahwa memperoleh pengetahuan tersebut lebih dari enam kali 40,62%). Responden
paling banyak menayatakan bahwa setiap kali mereka mendapat pengetahuan tentang
safety riding, pemahaman mereka akan konsep safety riding jarang bertambah
(43,75%).
Mayoritas responden menyatakan bahwa
selalu menggunakan helm standar dengan benar saat berkendaraan. Hal ini
ditunjukkan dengan prosentase sebesar 68,75%. Responden paling banyak
menyatakan bahwa jarang menggunakan atribut berkendaraan (jaket, sepatu, dan
sarung tangan) yang ditunjukkan dengan prosentase sebesar 59,38%. Pada
indikator pemasangan spion dengan lengkap, responden paling banyak menyatakan
tidak pernah memasangnya dengan lengkap (37,5%). Kebanyakan dari mereka hanya
memasang spion kanan saja. Responden sebanyak 40,62% menyatakan bahwa jarang
memeriksa kondisi kendaraan mereka. Sementara untuk indikator pembawaan SIM dan
STNK, mayoritas responden menyatakan bahwa selalu membawanya saat berkendara
(56,25).
Secara umum perolehan total skor pada variabel X disajikan pada tabel
berikut:
Tabel 2: Tabel Distribusi
Frekuensi Total Skor Variabel Tingkat Kesadaran Berkendara yang Aman
Jumlah Skor (∑X)
|
Frekuensi (f)
|
Presentase (%)
|
Presentase Kumulatif (%)
|
13
|
2
|
6.25
|
6.25
|
15
|
1
|
3.13
|
9.38
|
17
|
3
|
9.38
|
18.75
|
18
|
3
|
9.38
|
28.13
|
19
|
3
|
9.38
|
37.50
|
20
|
3
|
9.38
|
46.88
|
21
|
3
|
9.38
|
56.25
|
22
|
1
|
3.13
|
59.38
|
23
|
7
|
21.88
|
81.25
|
25
|
1
|
3.13
|
84.38
|
26
|
3
|
9.38
|
93.75
|
27
|
2
|
6.25
|
100.00
|
∑
|
32
|
100.00
|
Sumber: Data
primer diolah
Dari jawaban responden
dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu sangat baik, cukup baik, dan
kurang baik didasarkan pada rumus (Anas Sudijono, 1999) berikut :
Sangat baik =
mean + 1.SD = 20,81 + 1.2,60 =
23,41
Kurang baik = mean - 1.SD =
20,81 - 1.2,60 = 18,21
Tabel 3: Tabel Frekuensi Kategori Variabel Tingkat Kesadaran Berkendara
yang Aman
Kategori
|
f
|
f%
|
Sangat baik
|
6
|
18.75
|
Cukup baik
|
17
|
53.13
|
Kurang baik
|
9
|
28.13
|
∑
|
32
|
100
|
Sumber: Data
primer diolah
Hasil perhitungan diperoleh nilai Mean
sebesar 20,81 dan standar deviasi (SD) sebesar 2,60. Sehingga diperoleh hasil
untuk kategori sangat baik adalah responden yang mempunyai jumlah skor di atas
23,41 , kategori cukup baik dengan skor berkisar antara 18,21 – 23,41 , dan
kategori kurang baik dengan skor di bawah 18,21. Dengan demikian subyek yang
menyatakan kesadaran berkendara yang aman kategori sangat baik sebanyak 6 orang
atau sebesar 18,75%, dalam kategori cukup baik sejumlah 17 orang (53,13%), dan
dalam kategori kurang baik sejumlah 9 orang dengan persentase sebesar 28,13%,
sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kesadaran berkendara yang aman di kalangan pelajar SMAN 01 Batu dapat dikatakan cukup baik.
Untuk lebih jelasnya perolehan nilai
variabel tingkat kesadaran berkendara yang aman di SMAN 01 Batu
dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2:Diagram Nilai Variabel
Tingkat Kesadaran Berkendara yang Aman
b. Perilaku Tertib Berlalulintas (Variabel Y)
Instrumen perilaku tertib berlalulintas memiliki beberapa indikator, yaitu ketaatan
pada rambu-rambu lalu lintas, ketaatan pada traffic
lights, penggunaan jalur di lajur kiri, menyalakan lampu kendaraan di siang
hari, pemberian tanda saat akan berbelok atau menyalip, dan cara mengemudi yang
tidak ugal-ugalan.
Secara tabulasi disajikan pada data
berikut :
Tabel 4: Tabel Distribusi
Frekuensi Variabel Perilaku Tertib Berlalulintas
No.
|
Indikator
Variabel Y
|
Skor
|
|||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
||||||
f
|
f%
|
f
|
f%
|
f
|
f%
|
f
|
f%
|
||
1.
|
Ketaatan pada rambu lalulintas
|
1
|
3,13
|
6
|
18,75
|
8
|
25
|
17
|
53,13
|
2.
|
Penggunaan lajur kiri
saat berkendaraan
|
2
|
6,25
|
4
|
12,50
|
12
|
37,50
|
14
|
43,75
|
3.
|
Pemberian tanda saat
akan berbelok atau menyalip
|
2
|
6,25
|
6
|
18,75
|
6
|
18,75
|
18
|
56,25
|
4.
|
Ketaatan pada traffic
lights
|
2
|
6,25
|
2
|
6,25
|
7
|
21,88
|
21
|
65,62
|
5.
|
Menyalakan lampu di
siang hari
|
20
|
62,50
|
8
|
25
|
1
|
3,3
|
3
|
9,8
|
6.
|
Cara mengemudi yang
baik (tidak ugal- ugalan)
|
1
|
3.13
|
4
|
12,50
|
12
|
37,50
|
15
|
46,88
|
Sumber: Data primer diolah
Sebagian
besar responden (53,13%) menyatakan bahwa selalu menaati rambu-rambu lalulintas. Untuk indikator
Y yang kedua, responden paling banyak menyatakan bahwa selalu menggunakan lajur
kiri saat berkendaraan (43,75%). Responden paling banyak juga menayatakan bahwa
selalu memberi tanda dengan lampu sein saat akan berbelok atau menyalip
kendaraan di depannya (56,25%).
Mayoritas responden menyatakan bahwa
tidak pernah menyalakn lampu di siang hari saat berkendaraan. Hal ini
ditunjukkan dengan prosentase sebesar 62,50%. Sementara untuk indikator cara
mengemudi yang baik, sebagian besar responden menyatakan selalu mengemudi
dengan baik atau tidak ugal-ugalan.
Secara umum perolehan total skor pada
variabel X disajikan pada tabel berikut:
Tabel 5: Tabel Distribusi Frekuensi Total Skor Variabel
Perilaku Tertib Berlalulintas
Jumlah Skor (∑X)
|
Frekuensi (f)
|
Presentase (%)
|
Presentase Kumulatif (%)
|
7
|
1
|
3.13
|
3.13
|
9
|
1
|
3.13
|
6.25
|
14
|
2
|
6.25
|
12.50
|
15
|
2
|
6.25
|
18.75
|
16
|
1
|
3.13
|
21.88
|
17
|
3
|
9.38
|
31.25
|
18
|
9
|
28.13
|
59.38
|
19
|
3
|
9.38
|
68.75
|
20
|
2
|
6.25
|
75.00
|
21
|
2
|
6.25
|
81.25
|
22
|
4
|
12.50
|
93.75
|
24
|
2
|
6.25
|
100.00
|
∑
|
32
|
100.00
|
Sumber: Data
primer diolah
Dari jawaban responden dapat dikategorikan menjadi
tiga macam, yaitu sangat baik, cukup baik, dan kurang baik menggunakan rumus sebagai berikut:
Sangat baik =
mean + 1.SD = 18,06 + 1.3,11 = 21,17
Kurang baik = mean - 1.SD =
20,81 - 1.3,11 = 14,95
Tabel 6: Tabel Frekuensi Kategori Variabel Perilaku Tertib Berlalulintas
Kategori
|
f
|
f%
|
Sangat baik
|
6
|
18.75
|
Cukup baik
|
22
|
68.75
|
Kurang baik
|
4
|
12.50
|
∑
|
32
|
100
|
Sumber: Data
primer diolah
Hasil perhitungan diperoleh nilai Mean
sebesar 18,06 dan standar deviasi (SD) sebesar 3,11. Sehingga diperoleh hasil
untuk kategori sangat baik adalah responden yang mempunyai jumlah skor di atas
21,17 , kategori cukup baik dengan skor berkisar antara 14,95 – 21,17 , dan
kategori kurang baik dengan skor di bawah 14,95. Dengan demikian subyek yang
menyatakan perilaku tertib berlalulintas kategori sangat baik sebanyak 6 orang
atau sebesar 18,75%, dalam kategori cukup baik sejumlah 22 orang (68,75%), dan
dalam kategori kurang baik sejumlah 4 orang dengan persentase sebesar 12,50%,
sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat kesadaran berkendara yang aman di kalangan pelajar SMAN 01 Batu dapat dikatakan cukup baik.
Untuk lebih jelasnya perolehan nilai
variabel perilaku tertib belalulintas SMAN 01 Batu dapat digambarkan sebagai
berikut:
Gambar 3:Diagram Nilai Variabel Perilaku Tertib
Berlalulintas
4.2
Pembuktian Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah
adanya hubungan antara tingkat kesadaran berkendara yang aman terhadap perilaku
tertib berlalulintas. Metode pembuktiannya adalah dengan tabulasi silang antara
variabel X dan variabel Y yang ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 7: Tabel Tabulasi Silang
Hubungan antara Tingkat Kesadaran Berkendara yang
Aman (X)
terhadap Perilaku Tertib Berlalu Lintas Pelajar SMA Negeri 01 Batu (Y)
Y
X
|
Sangat Baik
|
Cukup Baik
|
Kurang Baik
|
Sangat Baik
|
3 = 9,38%
|
3 = 9,38%
|
-
|
Cukup Baik
|
3 = 9,38%
|
13 = 40,62%
|
1 = 3,13%
|
Kurang Baik
|
-
|
6 = 18,75%
|
3 = 9,38%
|
Sumber: Data
primer diolah
Dari hasil tabulasi silang tersebut,
dapat diketahui bahwa sebagian besar responden yang menyatakan tingkat
kesadaran berkendara yang aman dengan kategori cukup baik berdampak pada
perilaku tertib berlalulintas yang cukup baik pula (40,62%). Hal ini
membuktikan bahwa ada korelasi positif antara tingkat kesadaran berkendara yang
aman terhadap perilaku tertib berlalulintas yang ditunjukkan dengan prosentase
sebesar 40,62%. Analisis tabulasi silang yang telah dilakukan tersebut, dapat
menunjukkan bahwa hipotesis peneliti yakni ada pengaruh antara tingkat
kesadaran berkendara yang aman terhadap perilaku tertib berlalulintas terbukti.
4.3 Pembahasan
Kesadaran berperan
dalam memahami dan menentukan kehendak dan sikap kita secara rasional dalam
menghadapi realitas disekeliling kita. Dengan memahami bahwa
kesadaran berperan dalam memahami dan menentukan kehendak dan sikap manusia
dalam menafsirkan realitas disekitarnya, dapat dijelaskan bahwa ketidaktertiban
pengendara sepeda motor di jalan raya, tentunya disebabkan oleh rendahnya
tingkat kesadaran para pengendara ketika menafsirkan realitas disekitarnya.
Artinya, semakin tinggi tingkat kesadaran para pengendara, semakin tinggi pula
tingkat kesadaran sosial para pengendara yang pada gilirannya akan melahirkan
kehendak dan sikap yang rasional pula.
Seiring dengan
adanya hubungan antara tingkat kesadaran dengan perilaku yang diaplikasikan di
sekelilingnya, maka dengan meningkatkan kesadaran berkendara yang aman, maka
perilaku tertib di jalan akan bertambah. Saat ketertiban di jalan bertambah,
maka suasana aman dan terkendali dalam berkendara akan semakin baik serta dapat
meminimalisir terjadinya kecelakaan lalulintas, khususnya di kalangan pelajar.
BAB V
PENUTUP
5.1
Simpulan
Dari
penelitian yang telah peneliti lakukan maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara tingkat
kesadaran berkendara yang aman terhadap ketertiban berlalu lintas di kalangan
pelajar. Di mana dari hasil tabulasi silang yang telah dilakukan dapat
diketahui bahwa sebagian besar responden yang menyatakan tingkat kesadaran
berkendara yang cukup baik berdampak pada perilaku tertib berlalulintas yang
cukup baik pula dengan prosentase sebesar 40,62%. Sehingga dari penelitian ini dapat diketahui
adanya korelasi positif antara tingkat kesadaran berkendara yang aman dengan perilaku tertib berlalulintas yang
ditunjukkan dengan persentase sebesar 40,62% .
5.2
Saran
Berdasarkan hasil penelitian
dan simpulan, dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Diharapkan agar sertiap anggota masyarakat
khususnya pelajar dapat lebih memahami, menyadari, serta menerapkan cara
berkendara yang aman agar tercipta kondisi lalulintas yang tertib dan aman.
2. Kepolisian dan instansi yang terkait dapat lebih
menggencarkan sosialisasi program safety riding sebagai upaya
meningkatkan kesadaran aman berlalulintas, sehingga dapat menekan angka
kecelakaan dan menegakkan ketertiban di jalan raya.
ini menggunakan SPSS atau program apa kalau blh tau ?
ReplyDeletepake excel biasa kok :)
Deletesaya tertarik dengan tulisan kaka,
ReplyDeleteboleh minta soft copy nya gak? uunharyanti.uh@gmail.com
terima kasih :)